Kebanggaan Mama

Oleh Hesty N Tyas (Solopos, 10 Maret 2019)

Kebanggaan Mama ilustrasi Solo Posw.jpg
Kebanggaan Mama ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

“Oh iya anak-anak, Ibu mau memberi tahu kalian mengenai hasil dari olimpiade sains se-kabupaten yang diadakan sepekan lalu.”

Bu Rahayu, guru PPKN sekaligus wali dari kelas V-B, memberikan pengumuman sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Sontak saja seluruh perhatian siswa VB terfokus kepada Bu Rahayu, yang sudah siap membacakan hasil olimpiade sains kabupaten lewat selembar kertas di tangannya. Ada beberapa siswa kelas V-B yang mengikuti olimpiade tersebut.

“Selamat kepada Karin, karena kamu memperoleh juara II dalam olimpiade sains se-kabupaten kemarin. Untuk selanjutnya, kamu akan mengikuti pembinaan untuk mengikuti seleksi olimpiade sains seprovinsi.” Bu Rahayu bertepuk tangan, diikuti seluruh siswa kelas V-B. Suasana kelas pun menjadi ramai oleh sorak-sorai.

Karin segera mendapat banyak kalimat selamat dan pujian dari teman-teman sekelas. Reina, yang kemarin bahkan tidak lolos ikut seleksi olimpiade sains tingkat sekolah, hanya bisa menghela napas dalam-dalam dan menyimpan perasaan irinya. Bagaimana tidak? Ia juga ingin menjadi juara dalam olimpiade sains dan mendapat banyak pujian dari teman-teman. Ia ingin menjadi murid teladan yang dibanggakan oleh guru-guru. Ia ingin sekali seperti itu.

Teeet… teet… teeet…

Bel pulang sekolah pun akhirnya berdering. Reina segera mengemasi barang-barangnya. Sebelum pulang, Bu Rahayu menyuruh Karin untuk memimpin doa.

***

Reina pulang sekolah dengan kepala tertunduk. Mama yang sedang menyapu dedaunan kering di halaman depan rumah pun menjadi heran. Biasanya Reina kalau pulang sekolah selalu ceria sambil mengucap salam dengan lantang.

“Kenapa, Rein?” tanya Mama, sejenak menghentikan aktivitas menyapunya.

Reina diam saja, lantas segera melangkah masuk ke dalam kamarnya. Sekilas dilihatnya Audrey, sang adik yang baru berusia lima tahun, sedang menggambar di ruang tengah. Audrey memang hobi menggambar. Kata mama, itu bakat turunan dari Reina.

Sebenarnya, Reina masih memikirkan Karin. Memikirkan kenapa gadis itu bisa jago dalam pelajaran eksak, tidak seperti dia. Huh, dia berbakat banget. Sedangkan aku? Hafal rumus fisika aja enggak! Ada perasaan iri dan sedih yang menyelundup di benak Reina.

Karin jago IPA, Reina enggak. Karin siswa teladan di kelas, kalau Reina? Dih, boro-boro siswa teladan. Pas pelajaran matematika saja malah asyik gambar kartun di buku tulis halaman paling belakang. Baru mau belajar pakai SKS (Sistem Kebut Semalam) kalau besoknya ada ulangan. Pokoknya Karin dan Reina itu bagai bumi dan lanwgit, deh!

“Rein?” Ibu menyusul ke kamar Reina dan duduk di tepi ranjang putri sulungnya itu.

“Kenapa hayoo? Kok enggak semangat kayak biasanya gitu? Kan, kalau pulang sekolah biasanya kamu langsung tanya ada lauk apa. Tuh, Mama masakin kamu ayam goreng krispi plus sambal tomat kesukaan kamu.”

Reina tidak menanggapi perkataan mamanya dan hanya bergeming, menatapi ubin dengan muka murung.

“Habis kesel! Aku enggak jago IPA kayak Karin, dan enggak bisa ikutan olimpiade, dan enggak jadi murid teladan, dan… dan, dan gitu deh!”

Mama mengernyit sebentar, tapi kemudian segera mengangguk paham. Oh…, jadi rupanya itu yang sedang mengganggu pikiran putrinya saat ini. Mama pun tersenyum, “Mama kira kamu lagi patah hati, hihi…”

Reina mendongak, “Reina kok patah hati! Enggak ada!”

Mama tertawa geli, “Nah, itu tahu! Reina kok patah hati gara-gara enggak jago IPA!”

Reina mengernyit, “Itu tuh beda lagi, Maaa…”

“Itu tuh sama aja, Sayaaang. Walaupun kamu enggak sejago Karin dalam pelajaran IPA, tapi, kamu tetap jagoan di hati Mama!” Mama mengedipkan sebelah mata.

Reina tertawa, “Ihhh, lebay amat!”

“Tapi bener, deh. Waktu Mama seusia kamu, Mama juga paling bete kalau pelajaran IPA sama Matematika. Tapi Mama jago gambar kayak kamu! Terus banyak deh teman-teman Mama yang minta dibikinkan gambar kartun sama Mama!”

“Sama! Bahkan, Karin berkali-kali minta dibikinkan gambar Doraemon sama aku. Katanya, itu kartun kesukaan dia,” cerita Reina dengan bangga. “Terus, waktu pelajaran Seni Budaya, Pak Wali minta tolong ke aku untuk membuat gambar karakter kartun di papan tulis. Katanya biar bisa buat contoh ke teman-teman sekelas yang lain, hehehe….”

Mama tersenyum puas, “Tuh, kan? Apa Mama bilang? Karin jago IPA, kamu jago gambar. Adil, dong… jadi enggak ada yang perlu digalauin lagi, kan?”

Reina terdiam, lalu meringis. Mama mengacak lembut rambut Reina sambil tertawa kecil.

“Kak, gambayin supelmen [bikinkan gambar superman] dong,” tiba-tiba Audrey berlari masuk ke dalam kamar Reina. Ia membawa kertas gambar dan pensil lengkap dengan senyum lebarnya .

Mama membawa Audrey ke pangkuannya, “Tuh, Kak. Audrey pasti juga bangga punya kakak yang bisa membikinkan gambar Superman buat dia. Ya enggak, Drey?”

Audrey mengangguk dengan menggemaskannya, “He’em.

Reina dan Mama tertawa. ***

Arsip Cerpen di Indonesia