Ini kampung. Suasana kampung. Keadaan kampung. Dan orang-orang kampung. Di kampung ini terdapat sebuah lapangan bola. Lapangan bola yang dibangun dan dibenahi bersama-sama oleh anak muda dan anak-anak. Setiap setahun sekali, anak-anak muda dan juga anak-anak yang bahkan belum lancar membaca mengadakan gotong-royong untuk mengurus lapangan bola ini. Mereka merapikan rumput, kalau tidak dikatakan memangkas habis rumput. Ada di antara mereka yang menggali lubang untuk dipasangkan tiang gawang. Ada di antara mereka yang pergi mencari batang bambu untuk dijadikan gawang. Dan bahkan ada di antara mereka yang merancang bangku penonton.
Lapangan bola ini boleh digunakan oleh siapa saja. Boleh digunakan oleh anak-anak hingga ayah anak-anak. Namun, pada sore hari sepulang mengaji, lapangan ini kerap kali digunakan oleh anak-anak, terutama saat mereka tidak berenang di sungai. Suatu waktu, seorang anak pulang ke rumah setelah berenang di sungai dengan menangis tersedu-sedu sebab tidak tahu lagi kancutnya tersangkut di mana.
Bila tiba saatnya mereka bosan mandi di sungai, maka bermain bola adalah pilihan yang sering dilakukan. Mulanya mereka membagikan diri menjadi dua tim dengan jumlah seimbang. Kemudian mereka bermain bola seperti biasa. Tapi, tidak dapat dikatakan seperti biasanya juga. Bagaimana tidak, sebelum bermain mereka telah lebih dahulu mengumpulkan uang dengan jumlah yang telah ditentukan per orangnya. Uang menang katanya. Nanti, setelah permainan selesai, uang itu akan diserahkan dengan panuh hormaat, tapi belum tentu penuh ikhlas kepada kelompok yang menang. Sedangkan kelompok yang kalah, silahkan telan ludah dan pulang.
Sebagian besar dari mereka mengetahui bahwa cara ini tidak bagus. Bahkan dapat disamakan dengan judi, begitu amanat yang sering disampaikan oleh guru ngaji mereka. Alhasil ketika sampai di lapangan ada anak-anak yang dikategorikan sebagai anak lurus, dia selalu terngiang-ngiang akan amanat guru ngajinya itu. Tapi dia tidak mundur dari permainan. Sebab mundur dari permainan sama dengan mengurung diri dalam kesepian. Anak yang lurus ini, begitu sebutannya, memilih tetap bermain, akan tetapi setiap uang yang diperolehnya dari menang main bola tidak dibawa pulang. Jika dibawa pulang dia teringat bawa itu uang haram, maka bisa celaka rumah beserta seluruh isinya. Tidak juga dia makan, sebab bila dalam darahnya mengalir uang haram, maka doanya tidak akan pernah dikabulkan Tuhan. Jadi, si anak lurus ini mengambil jalan tengah. Diletakkannya uang haram itu dengan tersembunyi dan penuh rahasia di bawah batu di sudut lapangan bola. Nah, besoknya uang itu akan digunakan lagi untuk bertaruh dengan teman-temannya pada permainan selanjutnya. Dengan begitu, pikirnya, dia akan selamat dunia akhirat sebab tidak mengalir dalam tubuhnya uang haram dan tidak pula hadir di dalam rumahnya uang yang tidak benar.
***