Nek Yat dan Temanku yang Lurus

Aku baru saja menerima kabar bahwa Nek Yat sudah berpulang kemarin sore. Dia menutup matanya dengan tenang. Namun, tidak ditemani oleh anak-anak kecil pembawa kayu bakar yang kini telah merantau ke daerah lain demi mencari pekerjaan yang layak. Beberapa teman-teman masa kecilku, sesama bocah pembawa kayu bakar turut berduka untuk berita tersebut. Tenang Nek Yat, kayu bakar akan digantikan dengan hal lain yang jauh menyenangkan di sana.

Tidak ingin larut dalam duka kematian  Nek Yat, aku juga teringat pada temanku yang lurus itu. Temanku yang takut akan uang haram itu. Aku juga teringat pada aroma sawah. Aku juga teringat pada berbagai permainan yang kerap kami lakoni sepulang dari mengaji. Dan rasanya ingin sekali mengulang atau sekurang-kurangnya melihat tempatnya yang sekarang entah bagaimana bentuknya saja sudah mengobati sedikit rindu.

“Nak, itu yang Bapak lakukan semasa kecil dulu. Setiap pulang mengaji kami menyusun sandal menghadap ke langit. Kemudian, kami melakukan ritual hom pi pa untuk menentukan satu orang sebagai penjaga sandal-sandal yang telah disusun itu. Sore itu kebetulan yang bertugas menjaga sandal adalah Sabri, sedangkan teman-temannya yang lain bersembunyi dari Sabri. Adapun Sabri berusaha mati-matian menjaga sandal itu sekaligus mencari temannya yang bersembunyi. Sebab bisa fatal bila salah satu temannya yang bersembunyi itu sampai berhasil menghancurkan susunan sandal yang dijaga Sabri. Karena itu artinya, Sabri mendapatkan tugas menjaga sandal-sandal itu lagi. Namun, apa hendak dikata, sampai akhir permainan, Sabri masih pada posisi semula. Dengan kelihaian teman-temannya, Sabri tidak pernah berpindah posisi. Selalu saja sandal-sandal yang tersusun itu berhasil dihancurkan oleh salah seorang temannya. Dan hingga akhirnya, Sabri terpaksa menyusun sandal-sandal itu dengan satu tangan sebab satu tangannya lagi sibuk menyeka air mata. Selain itu, kami juga bermain pistol-pistolan yang kami buat dari batang bambu yang kemudian pelurunya kami isi dengan bunga jambu. Nak, yang seperti itu sangat menyenangkan.” Aku menengadah ke langit. Seakan masa kecilku tergambar jelas di sana. Dari teras ini seakan-akan aku dapat kembali melihat masa kecil dan teman-temanku mendorong mobil-mobilan yang berisi kayu bakar. Dari teras rumah ini seakan aku dapat melihat kawanku yang lurus itu menyembunyikan uangnya di balik batu dengan sangat rapi.

Arsip Cerpen di Indonesia