Cerpen Dodi Goyon (Pontianak Post, 10 Maret 2019)

Jajan? Putih mata hampa tangan. Ke sekolah tak jajan. Menelan liur menyeka ludah. Empat kantin menggoda. Hanya lalapan yang tak tersedia. Putih mata hampa tangan. Sebulan sekali jajan berkhidmat. Uang kembalian iuran bulanan. Jangan sekali–kali jajan mendekat. Karena disuruh selalu hemat
***
Kau tahu kawan. Betapa tersiksanya tak jajan. Ketika pagi hari kau harus bangun awal, membersihkan meja makan, mengepel, mengelap kaca. Lalu mandi dan berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Menderita kawan.
Pengorbanan untuk tetap sekolah itu luar biasa aku rasakan. Orang tua di kampung tak punya biaya untuk melanjutkan SMA. Solusinya, aku harus ke kota. Mencari, bertanya ke ruko-ruko yang mau menampung anak kampung yang ingin bekerja tanpa di gaji. Dan berharap gaji itu di ganti dengan biaya sekolah. Bahasanya; aku ingin bapak atau ibu nyekolahkan saya dan imbalannya saya akan kerja bersama bapak atau ibu.
Kalau aku ceritakan semua hal tentang diriku maka tak akan cukup kawan. Sekarang aku hanya ingin menceritakan tentang uang jajan. Perihal uang saku yang sangat mengerikan bagi kalian bila tak mendapatkannya setiap pagi. Iya, setiap pagi.
“Kalau kamu mau ikut saya, ok. Tapi uang jajan tidak ada. Mau?”
Begitulah kata seorang pemilik warung makan ketika aku mengutarakan keinginanku melanjutkan sekolah.
Tak bisa di tolak. Karena itulah peluang yang ada. Karena sudah berapa puluh ruko toko saya tanyakan. Mulai toko elektronik, sampai toko kelontong tak ada yang mau aku bekerja sambil sekolah dengannya.
Dan sekarang warung makan ini bersedia, dengan syarat tanpa uang jajan. Ok, bagaimana lagi. Terpaksa aku terima. Sekolah bagiku penting. Bukan uang jajan.
***
Setiap istirahat aku akan pergi ke perpustakaan. Menelan, melahap, dan meratah semua isi buku yang ada. Bagaimana lagi. Mau melahap bakwan, menelan mie rebus, meratah permen karet, sudah pasti tidak. Aku tak punya uang sepeserpun untuk ke kantin dan memakan segala bentuk makanan di sana.
Hanya di sini, perpustakaan tempat jajanku. Walaupun katanya meratah, perut tetap keroncongan. Meskipun bahasanya melahap, kampung tengah tetap gaduh didemo cacing yang melarat.
Ada empat kantin di sekolah. Setiap kali melewatinya aku akan berlagak kenyang. Bersendawa ria. Padahal hanya palsu belaka. Atau pura-pura cegukan beberapa kali di depan mereka yang asyik melahap hasil uang jajannya.
Hal yang tak ingin aku sampaikan sebenarnya kawan. Tapi, aku ingin kalian tahu. Bagaimana rasanya menjadi anak sekolahan yang tak punya uang jajan. Jadi, setelah berakting ria tadi.
Sebenarnya perut ini sangat ingin di isi. Mulut ini berusaha menahan ludah yang selalu ingin berliur hendak mengunyah makanan yang merayu di meja-meja kantin itu. Duhai kasian kawan. Bersyukurlah kalian. Hanya itu batinku terkadang.
“Ayolah, ikut aku saja. Nanti aku traktir. Jajanku banyak kok.”
“Maaf, aku udah kenyang. Udah sarapan di rumah.”
Betapa bodohnya. Berbohong karena malu. Aku hanya tak ingin merepotkan teman. Malu. Memang.
Apakah aku harus memaksa teman untuk mentraktir makan, atau memalak murid perempuan hanya demi makan di kantin. Duhai kawan aku tak seperti itu. Aku hanya anak kampung yang ingin menuntut ilmu. Bukan anak kampung yang memakan uang anak kota.
Aku juga tak mau memakan hasil korupsi kotor dari teman-teman yang kebetulan orang tuanya berada. Bukan orang tuanya yang korupsi. Bahkan aku tak tahu. Tapi cara mereka meminta uang jajan tak lebih bagiku sama halnya dengan korupsi. Iya, tahu kenapa.
“Pak, lupa bilang. Ada buku paket yang belum dibayar.”
“Berapa?”
“Rp 50.000, Pak.”
Temanku. Aku sendiri saksikan. Sehabis salaman ketika diantar orang tuanya. Dia bagiku telah korupsi. Padahal harga buku hanya Rp35.000 setahuku.
***
Kapan aku jajan?
Sebulan sekali kawan. Sungguh. Itu pun kalau ada sisa dari pembayaran uang komite. Luar biasa bukan.
Uang komite Rp75.000. Biasa aku dititipkan 80.000. Nah, sisanya untuk jajan. Itu pun kalau diberi uang lebih. Tapi selalu aku dapatkan uang titipan yang selalu pas. Kata pemilik warung makan, “hemat ya?”
Duh, betapa ngerinya mendengarkan kata–hemat ya–itu.
Nah, itulah kisahku mengenai uang jajan kawan. Entah bagaimana kalian menyikapinya. Menganggapnya hanya sebuah cerita biasa, atau menggugah perasaan kalian untuk lebih hemat. Entahlah, kalian semua yang menilai. (*)