Tersandar di Sialang Pasung

“Begini. Kau harus membuat perahu terbesar dalam satu malam. Kemudian pagi harinya harus sudah tiba di tepi dermaga.”

Kolonel tertawa terpingkal-pingkal, “Apa kamu ingin menipuku seperti kisah-kisah semacam Candi Roro Jonggrang atau Gunung Tangkuban Perahu?”

“Apa maksudmu?”

“Jangan main-main, aku tidak sebodoh itu menjadi korban legenda-legenda.”

Nalea mulai kebingungan. Memang benar, diam-diam ia bercita-cita menjadi tokoh mitos dan legenda yang diceritakan turun-temurun.

“Dengar wahai Nalea binti Anip, cerita semacam itu sudah terlalu banyak. Aku jelas bisa membuat perahu dalam satu malam. Dan esok kita bertemu di dermaga Sialang Pasung.”

Setelah berkata seperti itu, sang kolonel pun pamit kembali ke seberang. Ia lantas mengerahkan ratusan pekerja untuk membuat perahu. Sementara itu, bayangan Nalea bahwa dirinya akan dikenang menjadi bagian dari legenda setara Sangkuriang, Malin Kundang, atau Bandung Bandawasa, kini mulai lenyap. Ia bahkan tak bisa lagi bermimpi menandingi ratu pantai selatan.

Maka malam itu, ratusan orang bekerja di pelabuhan Camat, sebenarnya mereka hanya memperbaiki sebuah perahu tua yang sudah ada, sehingga semuanya bisa selesai bahkan sebelum azan subuh. Dan pagi itu juga, sang Kolonel berlayar ke seberang dengan perahu tersebut. Sedangkan Nalea masih berharap pernikahan itu gagal, ia memanggil beberapa nelayan untuk diam-diam menyusup dan melobangi perahu. Namun para nelayan itu menolak.

“Tidak bisa, kami juga tidak ingin jadi tokoh jahat dalam legenda.”

Akhirnya ketika perahu bersandar dan Kolonel von Hammersdeer turun dengan gagahnya, Nalea pun mengerti, ia tak bisa apa-apa. Pagi itu juga, di dermaga Sialang Pasung, keduanya benar-benar menikah dengan mahar sebuah perahu.

Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya?

Arsip Cerpen di Indonesia