Sementara hari-hari pengangkatannya semakin dekat, yang Resman rasakan justru sakit kepala yang terus kambuh beberapa hari belakangan. Sebentar sakit kepala itu hilang, sebentar kemudian muncul lagi, seperti gelombang air laut yang menepi ke pantai.
Merintih menahan sakit kepalanya, Resman teringat percakapan dengan kawannya saat masih bertugas meliput. Sore itu hujan deras. Resman dan kawannya berteduh di pinggir jalan, di bawah atap warung pangkas Madura yang sudah tutup. Sementara itu, berita yang telah terkumpul belum selesai mereka tulis.
“Yang melekat pada pejabat itu dua: kebodohan dan dosa,” kata kawannya.
“Menurutmu, mana yang lebih dulu: kebodohan atau dosa?”
“Kebodohan dulu. Karena kebodohan makanya dia berbuat dosa untuk menutupinya,” begitu menurut kawannya.
“Terbalik kau! Berbuat dosa dulu, baru jadi bodoh. Karena berdosa makanya pejabat itu jadi bodoh. Semakin berdosa, akan semakin bodoh ia,” bantah Resman.
“Kau yang terbalik! Kalau dia tidak bodoh, tentu dia tidak akan berbuat dosa. Dia tidak akan melakukan hal-hal yang mengarah ke dosa, menghasilkan dosa, bahkan menyentuh dosa.”
“Jadi, kau percaya kalau pejabat yang berbuat dosa itu bodoh? Kau percaya bahwa mereka berbuat dosa karena kebodohannya?”
“Ya, bukankah itu interpretasi kebodohan yang sesungguhnya? Bahwa bodoh akan menghasilkan perbuatan yang salah, sedangkan pintar akan menghasilkan perbuatan yang benar?”
Resman tertawa mengejek, tak mau kalah berdebat. “Justru,” katanya, “karena mereka tidak bodoh, dengan kata lain, karena mereka pintar makanya mereka bisa berbuat dosa. Kau tahu, untuk berbuat dosa itu butuh kepintaran, bukan kebodohan. Orang bodoh tak akan bisa berbuat dosa.”
Lamunan Resman buyar saat teleponnya berdering.
“Sudah diputuskan tawaran saya?” tanya seseorang dari ujung telepon.
“Sudah, Pak. Tapi, uang saya belum cukup. Sekolah-sekolah belum pada nyetor. Alasan mereka dana BOS sudah tipis karena dipakai untuk keperluan buku-buku siswa.”
“Suruh mereka batalkan pesanan buku itu. Kau ini gimana, kok bodoh amat! Tak bisa kau jadi kadis kalau begini! Cari uang 500 juta saja sebulan tak dapat-dapat!”
“Siap, Pak. Saya upayakan.”