“Cepat! Waktumu sampai besok. Banyak yang ngantre posisi itu! Mereka semua sudah siapkan uangnya. Aku pilih kau karena aku kasihan lihat kau. Kau bilang kau pengin jadi kadis makanya aku tawari kau. Kalau kau tak sanggup, terpaksa nanti kukasih sama orang.”
“Siap, Pak.”
Resman bingung. Semakin hari ia menjadi semakin bodoh. Semakin ia membutuhkan uang, semakin ia jauh dari pintar. Pada saat-saat seperti ini ia harusnya lebih pintar, bahkan harus sangat pintar, bukan jadi bodoh seperti yang pernah dikatakan kawannya itu.
Ia memutar otak. Lantas muncul ide di kepalanya. Beberapa kepala sekolah akan berakhir masa jabatannya. Ini kesempatan emas, pikirnya. Mereka bisa ia kutipi Rp 20 juta per orang jika ingin tetap bertahan sebagai kepala sekolah. Bukannya ia tak tahu bahwa yang berhak mengutip uang itu bukan dia melainkan wali kota. Tapi, setelah ia pikirkan, itu urusan belakangan. Kepala-kepala sekolah itu akan mengira bahwa wali kota memerintahkan ia untuk mengutip.
Ada 12 kepala sekolah yang akan berakhir masa jabatannya bulan depan. Dari situ ia akan mendapat Rp 240 juta. Uang itu cukup sebagai syarat yang diminta wali kota jika digabung dengan Rp 300 juta yang ia kumpulkan selama sepuluh tahun terakhir. Sebagian kecil akan ia siapkan untuk membungkam wartawan dan orang-orang LSM, yang sehari-hari bertandang ke kantornya, menanduknya dengan koran yang diselipkan di kantong belakang celana.
***
Tak seperti biasanya, mereka menolak diberi Rp 500 ribu. Padahal, biasanya disalami Rp 50 ribu saja pun mereka sudah senang. Mereka ada yang meminta Rp 5 juta, ada yang meminta Rp 10 juta. Rata-rata meminta di atas Rp1 juta. Demi kabar soal upeti Rp 20 juta per kepala sekolah itu tidak bocor ke publik, Resman menyanggupi permintaan mereka. Alhasil, uang Rp 240 juta yang sudah ia kumpulkan tinggal tersisa separuhnya.
Para penanduknya bubar. Tinggal Resman seorang di kantornya, sendiri meratapi dirinya, dan bertanya dalam hati. Aku ini bodoh atau pintar?