Cerita Rahasia

Randi kemudian memainkan perannya. Dia memohon kepada Pak Ajat agar Sita mau berdamai dengan Dea. Pak Ajat menyanggupi. Mereka kemudian beramai-ramai mendatangi toko optik. Di toko itu, Pak Ajat menasihati Sita dan Dea hingga keduanya bersalaman tanda telah saling memaafkan. Saat akan keluar toko, petugas optik segera memainkan perannya menawari periksa mata gratis kepada Pak Ajat. Tetapi di luar dugaan, ternyata Pak Ajat menolak karena dia sedang terburu-buru! Randi dan kawan-kawan menjadi panik! Mereka khawatir rencana mereka gagal. Dea lalu kembali membuat drama dengan menjatuhkan dirinya hingga berpura-pura lututnya terluka. Petugas optik lalu mengajak Pak Ajat masuk kembali ke toko optik untuk bersama-sama mengecek luka kaki Dea.

Petugas optik menyarankan kepada Pak A iat agar diperiksa matanya sambil menunggu luka Dea diobati oleh petugas optik yang lain. Untunglah Pak Ajat bersedia karena Pak Ajat merasa khawatir jika Dea betul-betul terluka.

Setelah petugas optik selesai memeriksa mata Pak Ajat, Dea pun kembali berpura-pura sehat seolah-olah lukanya sudah diobati. Semuanya pulang ke rumah masing-masing dan berharap kacamata Pak Ajat bisa selesai sore itu.

Pagi sekali Randi sudah menunggu teman-temannya di pintu kelas.

“Kacamata Pak Ajat sudah jadi!” ucap Randi sambil menunjukkan bungkusan berwarna cokelat. Pelajaran pertama berlalu hampir satu jam. Tiba-tiba Pak Ajat kembali salah menuliskan angka hingga murid-murid kembali menjadi bingung. Segera Randi maju ke depan kelas seraya menyerahkan bungkusan berisi kacamata kepada Pak Ajat.

“Mohon bisa diterima, Pak! Ini sekadar tanda sayang kami kepada Bapak,” ucap Randi diiringi suara kompak teman-teman satu kelasnya yang berucap, “Mohon diterima Pak! Kami sayang kepada Bapak!”

Betapa terharunya Pak Ajat. Sambil berkaca-kaca, dia mulai mengenakan kacamatanya seraya mengucapkan terima kasih pada semua murid-murid kesayangannya.

Randi, Sita, Dea, dan teman-temannya yang lain saling melempar pandangan serta mengangguk sepakat. Mereka sepakat tidak akan menceritakan kepada Pak Ajat bahwa kejadian kemarin siang di optik hanya sebuah drama rekaan. Biarlah hal itu tetap menjadi cerita rahasia. ***

M Nadziif H. Kelas VI SDN 164 Karangpawulang, Jalan Karawitan No 81 Bandung

Arsip Cerpen di Indonesia