Cerita Rahasia

Oleh M Nadziif H (Pikiran Rakyat, 24 Maret 2019)

Cerita Rahasia ilustrasi Jony - Pikiran Rakyatw.jpg
Cerita Rahasia ilustrasi Jony/Pikiran Rakyat 

PAGI itu Pak Ajat, guru wali kelas V SD Mandiri mengajar di depan kelas tanpa kacamata. Alhasil, berulang kali Pak Ajat membuat kesalahan penulisan hingga anak- anak menjadi bingung. Pada jam istirahat, Randi sang ketua kelas menanyakan alasan Pak Ajat tidak memakai kacamata.

“Kacamata Bapak pecah, kemarm terjatuh dari saku baju Bapak saat Bapak naik ke genteng membetulkan genteng rumah yang bocor,” jelas Pak Ajat pada Randi.

“Tidak membeli yang baru ke optik Pak?” tanya Randi.

Pak Ajat hanya membalas dengan senyum. Usai bel tanda sekolah berdentang, Randi mengumpulkan teman-temannya untuk rapat tentang kacamata Pak Ajat. Karena tanpa kacamata, Pak Ajat berkali-kali membuat kesalahan yang membuat anak-anak menjadi bingung.

“Berapa jumlah uang kas kelas kita?” tanya Randi pada Sita bendahara kelas.

“Ada kurang lebih dua juta rupiah,” jawab Sita.

Setelah berdiskusi dengan teman-temannya, akhirnya mereka sepakat membelikan kacamata baru untuk Pak Ajat menggunakan uang kas. Mereka pun membuat rencana agar Pak Ajat mau diajak ke toko optik untuk diperiksa matanya agar kacamata yang dibelikan nanti sesuai baik ukuran maupun jenis lensanya.

“Aku berpura-pura bertengkar dengan Dea, karena kesal, lalu aku sembunyi di toko optik dan tidak mau pulang. Kemudian, kalian meminta Pak Ajat agar mau ke optik menemuiku dan menasihatiku agar mau pulang supaya orangtuaku tidak khawatir. Setelah aku dan Dea bermaaf-maafan, Pak Ajat ditawari periksa mata gratis oleh petugas Optik,” ucap Sita mengulangi urutan rencana yang dibuat bersama teman-temannya

“Berarti siang ini aku harus ke toko optik untuk memberi tahu petugas optiknya tentang rencana kita sehingga dia bisa ikut dalam drama kita,” ucap Randi.

Semuanya mengangguk sepakat.

Keesokan harinya, sepulang sekolah, Randi bersama kawan-kawannya mulai melaksanakan rencananya. Sita dan Dea tampak saling berteriak-teriak persis seperti anak yang sedang bertengkar. Kemudian, Sita terlihat membanting tasnya dan berlari menuju optik. Melihat pemandangan tersebut, Pak Ajat lalu memungut tas Sita dan memanggil-manggil Sita. Namun, Sita tak memedulikannya, dia terus berlari ke arah toko optik dan masuk ke toko itu.

Arsip Cerpen di Indonesia