Kisah yang Seharusnya Manis

Tanganku masih bergetar setiba di kafe. Seperti namanya, Batik Cafe, gedungnya dihiasi batik di mana-mana. Dinding, tiang penyangga, hingga kursi dan meja. Semua bermotif batik. Di gedung itu pula, sudah ada banyak tamu yang hadir. Dan beberapa tamu itu, aku betul-betul dikejutkan dengan salah seorang perempuan yang tak asing. Mengenakan batik sama yang kukenakan. Batik truntum. Perempuan yang sudah kusia-siakan cintanya.

“Anjani?” Aku menyapanya duluan. “Kamu juga datang ke sini?”

Anjani tampak heran melihatku tapi kemudian bersikap seolah biasa saja. “Tentu. Aku ikut merancang kafe ini.”

Dia tersenyum. Hangat sekali. Tiba-tiba seorang anak kecil perempuan yang mengenakan batik serupa berlari ke arahnya. Dia segera menyambutnya sambil sesekali menggunakan sapaan Nak. Batik boleh sama. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dia mungkin telah bersuami lagi. Pupus sudah harapanku.

“Maaf. Aku pergi dulu. Istriku menunggu.” Dan aku terpaksa berbohong. (*)

 

Watampone, 30/11/18

Arsip Cerpen di Indonesia