Mula-mula Maria mengamati matahari yang kerap kali membuat matanya sakit dan kepalanya berkunang-kunang. Setiap hari matahari muncul dari ufuk timur, menyeberangi langit sampai ke barat. Ia yakin sepanjang siang itu matahari berjalan dari timur ke barat hanya untuk menyisiri langit, mencari di mana Putri Rembulan berada.
Hingga petang menjelang, matahari menghilang. Maria memikirkan itu: ke mana perginya matahari? Ia pun menemukan sebuah jawaban yang ia karang sendiri bahwa matahari sedang menyeberangi langit lain. Pada petang hari itu, untuk pertama kalinya Maria mengamati rembulan berbentuk pisang. Orang bilang bulan sabit. Bukankah rembulan itu seharusnya bulat, pikir Maria. Lalu ke mana separuh tubuh rembulan yang lain? Dari hari ke hari, kepala Maria dipenuhi pertanyaan itu. Seiring tubuh rembulan yang semakin tipis. Seperti alis segaris. Sejak malam itu, Maria mulai suka naik ke atas loteng pada malam hari.
Akhirnya, pada malam ketika rembulan menghilang dan tak tampak segaris pun, Maria meyakini bahwa rembulan pun tengah melewati sebuah pintu dan menyeberangi langit lain. Dan di langit lain itulah mereka akhirnya bertemu. Langit lain yang sampai saat ini kerap diintai Maria. Langit lain yang sampai puluhan tahun kemudian masih diintai Maria. Maria yang telah menjadi renta. Maria yang semakin jauh kemiripannya dari sosok rembulan. Maria yang segenap dirinya telah menyerupai malam. Malam yang tua. (*)
Malang, 2016
Mashdar Zainal, lahir di Madiun pada 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.