Taktik Jitu Penjual Tahu

Keesokan harinya, seperti biasa Pak Banu berangkat pagi-pagi menjajakan tahunya. Sampai di lapangan tempat dia istirahat, Pak Banu meletakkan keranjangnya dan mulai menyelonjorkan kaki untuk beristirahat sejenak. Tak berapa lama kemudian Pak Banu mulai mengantuk, dan akhirnya tertidur. Ketika terbangun, dia tersenyum ketika tahu yang kali ini sudah disiapkannya bersama Salu semalam hilang lagi. “Yak, sesuai rencana,” lalu Pak Banu pulang dengan riang.

Empat hari selanjutnya, Pak Banu bersama Salu terus menjalankan taktik yang sudah direncanakannya. Tahu tetap hilang, tapi Pak Banu selalu pulang dengan senyum yang ceria.

***

Hari ini hari Minggu, Pak Banu libur berjualan. Dan hari ini tepat hari keenam setelah sekian hari tahunya hilang. Pak Banu hanya duduk di rumah, membaca koran dan minum teh kesukaannya. Salu duduk di sampingnya, sedang merakit sebuah kereta-keretaan dari kulit jeruk bali.

Tak berapa lama kemudian, datang seorang anak laki-laki sebaya Salu. “Permisi, apa benar ini rumah Pak Banu?” tanyanya malu-malu.

Pak Banu dan Salu berpandangan sejenak.

“Iya benar. Saya Pak Banu. Ada apa ya?”

Anak kecil itu menatap ragu dan sedikit takut. “Maaf, Pak, selama ini saya yang selalu mengambil tahu goreng buatan Bapak. Saya terpaksa karena saya tidak punya uang. Ibu dan adik saya sakit dan ayah saya tidak pulang-pulang. Adik saya hanya mau makan kalau ada tahu buatan Bapak,” kata anak itu sambil mulai menangis sesenggukan.

“Maaf ya, Pak.”

“Siapa nama kamu?” tanya Pak Banu sambil mengajak anak itu duduk di teras rumahnya.

“Saya Putu, Pak,” sahutnya masih sesenggukan.

“Sudah, tidak usah menangis,” kata Pak Banu.

“Lalu, apakah kamu sudah mencobanya? Membuat tahu sesuai dengan resep yang selama ini kamu ambil?”

Putu mengangguk pelan, lalu dia mengeluarkan lima lembar kertas yang ternyata berisi lima langkah mudah membuat tahu. “Tapi langkah terakhir saya belum dapat. Bapak libur hari ini,” kata Putu malu-malu.

Arsip Cerpen di Indonesia