Tongkat Keberuntungan

“Tongkat keberuntungan, Kek? Jadi dengan tongkat ini aku bisa mendapatkan keberuntungan?” tanya Panjinata.

“Ya, tapi ada syaratnya,” jawab Ki Saka.

“Apa itu Kek?” Panjinata bertanya lagi.

“Tongkat ini tidak akan berfungsi jika kamu tidak berlatih,” pesan Ki Saka.

“Cuma itu syaratnya?” kata Panjinata.

“Ia cuma itu,” kata Ki Saka.

“Baiklah, Kek,” jawab Panjinata.

Setelah memberikan tongkat tersebut, kemudian Ki Saka pamitan untuk pulang. Beberapa Minggu kemudian luka-luka Panjinata sembuh dan ia sudah belajar lagi di padepokan Ki Saka. Setelah mendapat hadiah tongkat keberuntungan, kini ia sangat bersemangat dalam belajar.

Enam bulan berlalu, kini tibalah kembali perlombaan menungang kuda. Dengan riang Panjinata mengikuti perlombaan tersebut. Ia merasa yakin pasti dirinya yang akan menjadi juaranya. Karena sekarang ia memiliki tongkat keberuntungan. Saat perlombaan akan dimulai Panjinata mengambil tongkat keberuntungan yang ditaruh dalam almari. Betapa terkejutnya Panjinata, ternyata tongkat keberuntungannya hilang. Seketika ia berlari ke padepokan menemui Ki Saka.

“Kek! Kakek!” teriak Panjinata

“Ada apa pangeran?” tanya Ki Saka.

“Tongkat keberuntunganku hilang, Kek. Tanpa tongkat itu aku pasti kalah. Tolong carikan, Kek?” rengek Panjinata.

“Tenang pangeran, tongkat keberuntungan itu sebenarnya tidak ada,” jawab Ki Saka.

“Maksud Kakek apa?” tanya Panjinata keheranan.

“Begini pangeran, kakek sengaja memberikan tongkat itu agar kamu punya semangat untuk belajar, kamu ingat pesan kakek? Tongkat itu tidak akan berfungsi jika kamu tidak belajar,” kata Ki Saka, mengingatkan kembali pesannya pada Panjinata.

“Benarkah yang Kakek katakan?” tanya Panjinata.

“Benar pangeran,” jawab Ki Saka.

“Terus sekarang bagaimana, Kek?” tanya Panjinata dengan nada kebimbangan.

“Ikutilah perlombaan menunggang kuda tersebut,” nasihat Ki Saka.

“Apakah Kakek yakin aku bisa melakukannya?” tanya Panjinata.

Arsip Cerpen di Indonesia