Anak Bulawan

Di senja itu, aku mencium bau minyak oli panas yang memualkan, telingaku berdenging menahan getaran mesin bus yang menyala. Air peluh keluar perlahan membelah kulitku yang kisut gelap dan kering, wajah beliaku terlukis merana. Aku dan Yasmin mengantar Mamak sampai di atas bus, dan turun sebelum bus itu akan berangkat ke ibukota. Esok subuh Mamak akan bergumul dengan perjalanan berikutnya.

Mamak mengira dirinya masih sangat muda dan elok ketika dia berkata, “Mamak akan pulang, akan kubawakan kalian bulawan.”

Yasmin membayangkan apa adanya kenyataan…itu bulawan. Aku membayangkan apa adanya perpisahan. Ada perasaan cemas dan gelisah yang merambah mendera. Aku hampir percaya aku tidak akan pernah melihat Mamak lagi, sekarang dan selama-lamanya.

Mamak tidak cantik, Mamak mengecil seperti daging yang diasap dan dikeringkan di atas tungku. Tapi tangan-tangan Mamak cantik dan memikat. Aku seolah melihat orang lain telah menggenggam kedua belah tangannya. Aku menjadi takut dan gelisah. Air mataku tersekat-sekat di dalam rongga mataku, pilu dan lara.

Tidak ada hujan yang turun sejak kepergian Mamak. Karena Mamaklah hujan itu sendiri. Dalam merana pagi, aku memeluk diriku sendiri.

Dalam derita malam, Yasmin berkeliaran dari satu kampung ke kampung lain, merayakan hujan yang telah pergi. Kakinya bebas tidak ada yang menahan, walaupun hatinya tapi setia berharap, pada janji Mamak.

Yasmin semakin membenciku, karena aku ternyata bisa berubah dan bukan hanya dia. Aku berani berbicara kepada Kobu’—ketika laki-laki dengan tangan yang berkulit cantik itu singgah di depan rumah kami—menurunkan jerigen plastik berisi minyak tanah.

Kali berikut, aku sempat menyodorkan ubi bakar panas yang manis dan wangi ke tangan Kobu’. Kubakar dalam bara api ketika sedang memasak sayuran bercampur dedak buat makanan babi. Tidak kusangka, Kobu’ senang sekali. Langsung memecah kulit ubi yang hitam berasap, membelahnya menjadi dua dan menyodorkan sebagian kepadaku. Aku memakan potongan ubi itu dengan perlahan, berusaha menenangkan badai.

Pada buku-buku jari Kobu’, semua tentang Mamak bergaris-garis di situ. Membelah-belah di setiap ruasnya. Pada telapak tangan Kobu’, jangan ditanya… aku melihat bulawan yang diceritakan semua bibir, mungkin sejak tujuh puluh dua tahun yang lalu. Anehnya, kali ini Yasmin bisa melihat bayangan yang sama. Sejak saat itu, aku sering mendapati mereka tertawa-tawa seperti saling melepas rindu.

Tujuh belas bulan, angin tidak mengabarkan apa-apa tentang Mamak. Dalam tempo itu, Yasmin mengandung anak Kobu’, mereka berdua menikah dengan upacara sederhana-kawin kampung.

Arsip Cerpen di Indonesia