Aku masih ingat, aku mendengar alunan lagu-lagu gereja yang merdu dalam bahasa daerah. Lagu itu memantul menerpa kain baju terusan yang dikenakan Yasmin. Kain brokat yang indah berwarna keemasan. Rambut Yasmin disanggul sederhana ke atas. Digulung dengan halus dan disemat dengan hiasan bunga yang berwarna secerah padi menguning.
Pagi-pagi buta aku duduk di pinggiran sungai, di belakang rumah kayu. Membiarkan belaian air yang dingin mengalir melewati sela-sela jari kakiku. Aku memang bodoh, membiarkan Yasmin bisa membaca isi-isi doaku.
Sekarang Yasmin sudah terikat dengan lelaki yang kugilai itu. Aku tahu, Yasmin melakukan apa saja yang diinginkan hatinya, hanya karena tidak sudi bila itu aku.
Aku pun menyerah, aku kembali berkebun dan ke sawah. Apa saja yang ditemui tanganku, akan kukerjakan. Sama seperti Mamak ketika mudanya,…tanganku menjadi begitu cantik, kuat, kasar, bergarisgaris yang dalam dan menebal. Aku seharum matahari pagi dan rambutku berkibar segelap malam.
Angin akhirnya bertiup dan mengabarkan, Mamak telah menikah lagi dengan lelaki Melayu. Mereka bertemu di rumah minum di daerah perkebunan kelapa sawit. Ah, akan selalu begitu ceritanya…
Tapi ada yang kusadari dengan terlambat, mengapa Mamak harus mencari bulawan ke mana-mana? Aku menyesal tidak memohon dan melarang Mamak pergi merantau. Bukankah aku ini, anak bulawan Mamak? Walaupun kulitku hitam kisut dan melekat dengan mengerikan di tulang-tulangku yang kecil. Kata seorang dokter muda yang pernah berkunjung, kemungkinan sejak masih berada dalam kandungan Mamak, aku kurang gizi.
CATATAN :
Bulawan dalam bahasa Toraja: emas
Caroline Wong. Lahir di Makassar, 13 September 1979. Sarjana Perhotelan lulusan UK Petra Surabaya. Mencoba menulis karena terkenang dengan cara mengajar almarhum Pak Rantepulung yang menyenangkan, guru Bahasa Indonesia di SMPN I Rantepao