Oleh Acep Yonny (Kompas, 31 Maret 2019)

Deburan ombak itu cukup jelas terdengar dari rumah Om Arka yang hanya berjarak satu kilometer dari Pantai Tanjung Kelayang di Pulau Belitung. Sayangnya, Ovi tiba di rumah Om Arka sudah larut malam sehingga tidak bisa langsung menikmati pantai yang indah dan bersih itu. Jauh hari sebelumnya Om Arka telah bercerita tentang keunikan sebuah batu yang mirip kepala burung garuda di Pantai Tanjung Kelayang tersebut.
“Kepala burung garuda dari batu?” tanya Ovi heran saat Om Arka berkunjung ke Yogyakarta beberapa minggu yang lalu. Om Arka sempat memperlihatkan foto-foto Batu Garuda itu.
Namun, malam ini Om Arka mengajak kami menikmati terlebih dahulu suasana Manggar di Belitung Timur. Konon kota ini dijuluki 1001 warung kopi.
“Kita minum-minum kopi dahulu ya? Melihat Batu Garuda-nya besok pagi saja, toh dekat dari rumah,” bujuk om Arka pada Ovi sambil melirik ayah. Ayah tertawa. Om Arka tahu ayah gemar sekali minum kopi.
Suasana warung kopinya benar-benar nyaman. Tak hanya kopi yang disediakan. Warung itu juga menawarkan beragam minuman yang lain, dan tentu saja kuliner khas pantai.
“Belitung itu bukan penghasil kopi, tetapi masyarakat di sini suka ngopi,” cerita om Arka sambil menyeduh kopi yang aroma wanginya langsung tercium. “Orang sini paling pandai meracik kopi sehingga rasanya khas.”
Aroma kopi yang sedap membuat Ovi terbuai dalam khayalannya. Apalagi perjalanan Yogyakarta-Tanjung Pandan yang harus transit dahulu di Jakarta cukup melelahkan.
Setengah sadar Ovi melihat pasukan alien menyerbu Pulau Belitung. Untung saja ada seekor burung garuda yang melindunginya. Dengan gagah berani burung garuda itu melawan para alien. Sayangnya, para alien berhasil menembakkan sinar laser sehingga membuat kepala burung garuda itu berubah menjadi batu.