Bayi Malaikat

Perempuan itu bekerja begitu keras. Ia menggarap sepetak lahannya dengan sigap dan cepat sehingga pekerjaannya selalu selesai lebih awal ketimbang orang lain. Dan, karena tersisa masih banyak waktu, ia menerima permintaan tetangga untuk membantu menggarap sawah mereka.

Ketika tidak ada yang bisa dikerjakan di sawah, ia pergi ke hutan untuk memulung apa pun yang bisa dijual. Awalnya, ia selalu membawa anaknya bekerja dengan menggendongnya di punggung menggunakan kain yang dililitkan karena tidak ada yang menjaga bayi tersebut.

Namun, lantaran bayi itu selalu tidur sepanjang ia bekerja dan baru terbangun setelah ia selesai seolah tahu kesibukannya, ia mulai meninggalkan bayi itu di rumah dan pergi bekerja dengan tenang. “Benar-benar seorang malaikat,” gumamnya.

Selera makan si bayi benar-benar luar biasa. Pada umur dua minggu, ia sudah tidak lagi terpuaskan oleh ASI. Ibunya berharap dengan porsi makan yang jauh lebih besar ketimbang porsi makannya, tangan, kaki, dan kepala si bayi Nul akan segera tumbuh dan bayi itu terlihat wajar sebagaimana bayi pada umumnya.

Namun, perempuan itu keliru. Yang bertambah besar dari bayi itu hanya badannya. Badannya terus mekar. Hingga ketika menginjak usia tiga bulan, ukuran badannya hampir sebesar kambing dewasa bunting tua dengan kepala dan tangan dan kaki yang meski sedikit lebih besar, tapi tetap terlihat sangat kecil.

“Apakah akan segera keluar sayap dari badanmu itu, Nak?” gumam si ibu ketika meninabobokan Nul suatu malam.

Keesokan paginya, ketika perempuan itu pergi ke hutan, sekelompok remaja gendeng menyelinap ke dalam rumah dan mengambil Nul. Sekelompok pemuda itu sepertinya telah merencanakan kebiadaban tersebut sejak lama. Mereka hanya tak menyangka bahwa badan Nul telah membengkak sebesar itu sehingga tak mungkin menyembunyikannya. Mereka harus menggotongnya. Kepada orang-orang yang bertemu, mereka bilang dititipi si bayi oleh ibunya agar diajak jalan-jalan dan akan berada di rumah kembali sebelum ibunya pulang dari hutan.

Di lapangan besar itu, para remaja gendeng tersebut membuka lapak yang lebih menyita perhatian ketimbang lapak apa pun di sana, bahkan ketimbang turnamen sepak bola itu sendiri. Orang-orang dari banyak dusun berkumpul untuk melihat bayi ajaib yang terkutuk dan hanya dilahirkan seribu tahun sekali, begitu menurut para remaja tersebut. Dan, untuk melihat bayi tersebut yang mereka sembunyikan di balik tirai, orang-orang harus membayar sejumlah uang.

Arsip Cerpen di Indonesia