Para remaja itu tak bakal menduga bahwa menjelang siang, terpanggang panas matahari yang tidak menutupi bagian atas selubung tirainya, bayi itu mengembang semakin besar, semakin besar, dan semakin ringan, lantas terangkat ke udara. Dalam beberapa menit kemudian, orang-orang tak perlu membayar untuk melihat bayi itu terbang ke atas, seperti balon udara. Dan semakin tinggi si bayi terbang, semakin besar ukuran tubuhnya. Bayi itu terus terbang tinggi hingga akhirnya ia menjelma titik di langit untuk kemudian tak ada mata yang bisa melihatnya lagi.
Para remaja mendadak panik. Mereka pulang dengan cemas dan gemetar. Sementara itu, si ibu sudah menunggu dengan air mata berurai. Dari para tetangga, ia tahu sekelompok remaja membawa anaknya. Siapa pun tahu reputasi para remaja itu sebagai perusuh dan pemabuk. “Kenapa tidak kau cegah mereka?” tanya ibu yang berduka dan menderita itu sambil tersengal.
“Aku tidak tahu kenapa aku tidak mencegah mereka. Kumohon maafkan aku. Maafkan aku.”
Meski terkenal perusuh dan pemabuk, nyatalah bahwa para remaja itu memiliki sifat jantan. Mereka datang ke ibu yang menangis itu, bersiap atas segala risiko, dan memulai permintaan maaf serta cerita mereka dengan kalimat: ia terbang ke langit. Seluruh orang di lapangan menjadi saksinya.
Alih-alih marah, ibu itu takjub dan terpukau.
“Ia kembali ke surga, malaikatku…”
Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.