Laki-laki itu pulang. Tidak berlari tidak juga pelan. Langkahnya hanya dipecepat sebisa mungkin. Di sepanjang jalan, jubahnya kembali coba dia naikkan, tapi terjatuh lagi sampai batas yang sama. Akhirnya apalagi yang terjadi kalau bukan orang-orang yang berlalu-lalang di jalan menatapnya dengan berbagai jenis tatapan. Ada muntah seketika, ada yang mencoba menjauh. Tidak sedikit yang mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah padahal jelas-jelas mereka jarang berbicara. Namun, seketika saja, ketika orang-orang itu melihat luka di tubuh lelaki yang terus mempercepat langkahnya tanpa peduli pada apa pun, mereka tidak bisa menahan mulut untuk bersuara. Mereka tidak bisa menjaga lagi kata-kata agar bersemayam di dalam jiwa. Akhirnya orang-orang itu hilang kesabarannya, hilang kewibawaannya.
Sepanjang jalan di mana laki-laki berpunggung luka itu lewat, orang-orang dengan pakaian berlapis-lapis itu sontak jadi banyak bicara bahkan sampai memaki. Tapi laki-laki itu masih seperti semula, mencoba menaikkan kembali jubahnya, berjalan dengan cepat tanpa pernah mencoba untuk berlari. Sampai kemudian ada seorang wanita dengan kain selendang yang cukup panjang menutup mulut setelah sebelumnya berteriak dan memekikkan kalimat, “Ulat berjatuhan dari punggungnya!”
Suara-suara semakin ramai. Orang-orang dengan kecepatan kilat mengambil kain yang kadang entah dari mana untuk menambah jumlah lapisan kain pada tubuhnya. Kini tubuh-tubuh mereka mirip tumpukan kain yang berjalan. Seluruh tubuh mereka tutupi dengan berhelai-helai kain. Hanya dua bagian yang diperlihatkan yaitu mata dan mulut mereka. Jika dulunya mereka hanya cenderung memperlihatkan mata saja untuk mengawasi jalan, kini sejak lelaki berpunggung terluka itu lewat, mereka mulai memperlihatkan mulut lebar itu. Dulu mulut itu sering diam sehingga terlihat berwibawa dan sabar dalam segala hal, kini diam adalah hal yang langka.
Telah lebih dari seminggu kejadian laki-laki berpunggung luka itu berlalu. Tapi, orang-orang di kampung ini tetap memakai kain dengan jumlah yang semakin menebal dalam keadaan mulut yang nyaris tidak pernah diam. Mereka masih saja membicarakan laki-laki yang berpunggung luka itu dengan penuh rasa jijik. Bahkan garis lurus saat antrian mengambil air di sumur ulama itu kini sudah bengkok. Beberapa mulai membentuk lingkaran-lingkaran kecil demi kenyamanan dan kekompakan saat bercerita. Di antara mereka ada yang membawa timba lebih dari satu dengan tujuan untuk berjaga-jaga. Sama tujuannya dengan menambah jumlah kain yang mereka pakai agar tidak ikut tertular penyakit laki-laki berpunggung luka itu. Beberapa orang yang sudah merasa lelah menunggu giliran pada bagian belakang, mengeraskan suaranya sebagai tanda untuk setiap orang agar gerakannya dipercepat. Bahkan ada diantara mereka yang memaki bila dianggap orang-orang di barisan depan masih sangat lambat.
***