Orang-orang duduk bertumpuk-tumpuk di sudut-sudut desa. Mereka seakan sudah punya lapak sendiri untuk berbicara dengan sesama. Masih dengan kain yang berlapis-lapis di badan, mulut dan matanya terbuka sempurna. Mereka masih saja membicarakan lelaki yang berpunggung luka itu. Beberapa di antara mereka mencoba mencari tahu keberadaan lelaki tersebut. Sebab, sejak kejadian sebulan lalu itu, lelaki berpunggung terluka tidak pernah muncul lagi. Hal inilah yang membuat semua warga bertanya-tanya. Ditambah lagi dari mana asal luka itu. Kenapa bisa ada luka seperti itu. Apa itu kutukan? Sebab bagaimana ceritanya luka bisa sampai bernanah, merah, hingga membusuk kecoklatan dan berulat begitu?
Orang-orang masih terus membicarakannya. Meskipun peristiwa itu telah berlalu lama. Orang-orang masih terus saja membicarakannya diawali dengan rasa jijik, tapi lama-lama jadi asyik. Orang-orang terus membicarakannya yang semula rasanya ingin jauh-jauh, tapi kemudian ingin dekat sebab penasaran. Orang-orang terus membicarakannya dari semula mulut mereka yang diam tapi kini bahkan tidak sempat diam.
Di tengah-tengah pembicaraan yang begitu hangat. Pembicaraan yang sudah mampu mengubah tradisi. Pembicaraan yang sudah mampu mengubah pola pikir itu, tiba-tiba muncul angin yang begitu kencang dari langit. Angin itu seperti gasing yang punca talinya tidak terlihat. Anehnya, angin itu tidak menghancurkan apa-apa. Rumah-rumah warga masih berdiri kokoh. Pohon-pohon masih tegak tanpa ada satu daun pun yang jatuh. Angin itu hanya menghempaskan kain-kain berlapis dari tubuh setiap orang. Hingga akhirnya tidak ada kain yang tersisa di tubuh mereka. Mereka saling heran dan saling tatap. Belum lagi sempat untuk berpikir bahwa mereka harus segera menutup tubuh mereka terutama beberapa bagian penting, mereka sudah muntah duluan. Luka yang tidak pernah dibayangkan sudah lebih dulu menutup seluruh tubuh mereka tanpa jeda.
Banda Aceh, 13 Februari 2019
Zahra Nurul Liza, penulis adalah alumni MPBI Unsyiah dan guru di SMPN 1 Darussalam