Sejak jadi mahasiswi, aku telah menangkap kesan bahwa kamu adalah mahasiswi yang hebat. Apalagi setelah kutahu kamu jurusan ekonomi. “Kamu akan jadi seorang ekonom yang cemerlang. Karirmu akan menanjak seiring berhiaknya waktu. Garis kurva karirmu akan menanjak seolah tak ada sedikit pun titik turun,” begitu ramalku waktu itu.
“Baik, seniman waktu. Jika telah sukses nanti ingatkan aku, bahwa kesuksesanku pernah diramal oleh seorang seniman yang lebih cocok bekerja sebagai peramal.. ha.. ha.. ha..! ” serumu seolah semua omonganku omong kosong belaka.
Kini kamu telah membuktikan omonganku dulu. Kini, kamu seorang bankir profesional. Kamu mondar-mandir ke luar negeri. Dan kami (aku dan kekasihmu), masih saja sama. Garis kurva karir kami datar melulu. Dari tahun ke tahun, dari waktu ke waktu. Kadang, kami bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku seniman? Atau merasa sok seniman? Atau malah seniman murahan.” Tapi kami tetap hidup dengan jalan kami. Dua sahabat yang saling mendukung dalam berkarya.
Kamu selalu dalam dandanan casual setiap kali bertandang ke indekos kami yang buruk. Kamu berusaha melebur pada lingkungan yang kamu kunjungi. Jiwamu terlalu ramah pada kami. Cintamu pada kekasihmu, sahabatku yang seniman kurus itu, ah, sungguh luar biasa. Dan, sahabatku itu, memang seniman sejati.
Aku tahu sejak awal perkenalan, kamu sudah gandrung padanya. Dan dia lebih-lebih lagi gandrung padamu. Dalam suatu pengerjaan proyek grafiti kami di Yogya, ia melukis wajahmu pada dinding seluas 115 m2. Siapa pun yang melewati jalan itu pasti menaruh mata pada bangunan dengan lukisan wajah seorang perempuan cantik. Lukisan raksasa itu memikat siapa saja, dan kamu hampir pingsan saat tahu pertama kali tahu. “Apa aku secantik itu?” begitu katamu waktu itu. Aku yang kebagian tugas menunjukkan lukisan itu kepadamu, harus gopah-gopoh menenangkan. Sementara kekasihmu sendiri sedang asyik bekeija dalam proyek yang lain. Namun, melihatmu kebanjiran bahagia, aku turut tenggelam dalam bahagia.
***
Sudah satu setengah jam kamu menunggu di serambi kos. Berjalan mondar-mandir tak karuan lalu duduk mengayun-ayunkan kaki. Cemas. Mondar-mandir lagi, lalu duduk lagi. Begitu berulang-ulang.
Laron pada datang. Berpusing-pusing pada lampu di serambi kos. Makin lama, makin banyak laron berpusing-pusing. Beberapa hinggap pada rambutmu yang tergerai indah. Kamu kibaskan rambutmu dan laron terpelanting untuk kemudian disantap kodok yang asyik berpesta.