Matamu semakin sayu. Badanmu gemetar dalam gigil dingin malam yang hujan. Air matamu yang sudah menggantung itu, sebentar lagi membikin kuyu.
Aku berdiri mematung dalam deras hujan. Berdiri di gerbang halaman kos. 20 meter saja jarakku darimu. Namun, rasanya berat untuk melangkah sampai kepadamu. Lebih berat lagi membayangkan, bagaimana harus mengatakan bahwa kekasihmu itu telah tiada. Ia terjatuh dari ketinggian 37 meter, saat pengerjaan proyek grafiti kami. Gemetar tanganku saat membopong jasad kekasihmu masih terasa hingga kini. Aku tak akan sanggup lagi membopongmu jika kamu pingsan setelah menerima kabar duka ini.
Hujan malam memang dingin. Namun, kalah dingin dengan duka nestapa ini. Membikin gigil sampai sedalam-dalamnya sumsum jiwa.
Kamu masih mengayun-ayun kaki cemas. Mata yang semakin sembab, mengecek layar ponsel yang tak banyak membantu. Tak mampu menggapai kabar kekasihmu.
Kukuatkan langkah, menghampirimu. Satu setengah jam sudah aku berdiri di bawah guyuran hujan. Demi mengumpulkan keberanian membawa kabar duka. Langkahku adalah langkah tawanan terikat dua bola besi di masing-masing kaki. Berat dan perih. Aku mendekat. Semakin mendekat. Gigiku gemeretak tak karuan. Kamu mendengarnya dan menoleh. Kamu menatapku cemas. Seekor kodok melompat naik di punggung kakiku. Seolah aku perusuh dalam pesta malam ini. Tidak juga mulutku menghasilkan suara. Hanya gerak hampa. Gerak bibir dan mulut tanpa suara. Aku tahu kamu sekarang beralih mencemaskanku. Aku lihat itu dari tatapan dan gerak tubuhmu. Kamu berusaha tegar. “Ada apa?” tanyamu sambil mencengkam erat kedua bahuku. Lalu aku pingsan. (*)
Klaten, 3 November 2016
Achmad Taufik Budi Kusumah. Memiliki noma pena Kunglhe Fhreya. Bekerja sebagai guru. Menulis puisi, cerpen, esai, cerita anak, dan novel. Sejumlah naskahnya telah tersiar di beberapa media massa.