“Kamu belum melunasi SPP selama 3 bulan,” suara itu pelan, namun terasa tegas dan tajam, menusuk ke hati dan mengalirkan rasa malu.
“Iya, Bu.” Siti mengiyakan jujur. Bagaimana ia bisa membayar, jika orang tua belum memberikan uang?
“Karenanya, sesuai peraturan, saya tak akan memberikan rapormu, sebelum pembayaran lunas.”
“Saya…saya belum dikasih uang sama orang tua, Bu Guru.”
“Peraturan sekolah melarang saya memberikan rapor ini padamu, meski sebenarnya saya ingin memberikan rapor ini padamu.”
“Baik, Bu Guru. Tapi…tapi saya ingin melihat rapor saya, apa boleh?”
“Sayangnya, tidak.”
“Apakah saya boleh tahu berapa nilai saya, saya dapat ranking berapa?”
“Nilai rata-rata kamu 9,5. Kamu dapat ranking pertama. Kamu hebat Siti.” Bu Guru Wilda memuji, sekilas menyapu pandang pada paras perempuan belia lugu di depannya.
“Terima kasih, Bu Guru…”
“Baiklah Siti, sudah siang. Kau boleh pulang sekarang. Sementara rapormu Ibu simpan. Sampai lebaran, setelah kembali masuk sekolah dan kau melunasi uang sekolah, kau boleh melihat rapormu.”
Siti mengangguk lemah. Bu guru Wilda berlalu berlangkah tegap. Siti melangkah lunglai. Tetes air mata meleleh di pipi, sepanjang Siti berjalan kaki dalam perjalanan pulang pada sebuah siang kerontang.
***
“Aku sudah bilang, kan, untuk apa anak perempuan sekolah. Anak perempuan tempatnya di dapur, sumur dan kasur!” Sekolah tinggi juga percuma!” Lelaki 40 tahun, pendek, keling, gondrong, memuntahkan marah.
“Siti pintar. Siti ingin jadi guru,” gumam si istri, perempuan 32 tahun, berdaster lusuh.
“Pintar kalau orang tuanya kere, mau jadi apa?!” Si suami membentak.
“Mengapa bapak menyumpahi diri sendiri seperti itu? Istighfar, Pak.”
“Berapa kali aku bilang, Bu. Kita miskin. Anak banyak. Untuk makan sehari-hari saja susah, apalagi untuk sekolah!”
“Mengapa mengeluh, Pak. Rezeki ada yang mengatur.”
“Iya, dan kita sudah diatur untuk miskin dan kere!”