Perempuan lugu tergugu. Ia sudah membantu perekonomian keluarga. Buruh cuci. Bersih-bersih. Demi tambal sulam kebutuhan. Seandainya saja ia memiliki uang, ia menginginkan Siti sekolah setinggi mungkin. Jadi sarjana.
Diam-diam Siti mencuri dengar, pada balik pintu Siti mengusap pelupuk mata yang memanas.
“Siti tadi pulang sekolah terlihat sedih karena tak mendapat rapor gara-gara belum melunasi uang SPP tiga bulan.”
“Sudah, ah, pusing. Salahnya sendiri mengapa tak menurut orang tua. Daripada sekolah ia lebih baik kerja.”
“Kerja apa, Pak, lulusan SD? Seperti aku jadi tukang cuci?”
“Penting dapat uang, daripada ngabisin uang untuk hal tak penting!”
“Sudah, Pak. Malu didengar tetangga.”
***
Di dalam kamarnya yang temaram Siti memandang dirinya di balik cermin buram. Mungkin seperti inilah masa depannya? Siti mengeluh. Ia letih dan ingin tidur. Mungkin tidak salah yang dikatakan Bapak. Mungkin benar yang dikatakan Emak. Siti bingung. Ia tak mengerti apa yang harus dilakukan.
Siti menuliskan perasaan hatinya ke dalam buku diari. Ia merasa lega. Meski sesaat saja. Gelisah, kesedihan kembali mampir. Siti memandang seputaran kamar mungilnya. Ambin tanpa kasur. Meja belajar bekas. Lemari kayu dengan cermin kusam. Langit-langit kamar yang rendah, dadanya sesak. Beban berat menekan dinding hatinya. Siti, sungguh tak ingin menangis. Namun, sekarang ia tak sanggup lagi. Sepuasnya ia ingin menangis, bukan ingin, tapi ia sudah menangis. Membasahi bantal tipis. Membasahi tilam kurus. Siti mengakhiri tangis dengan perasaan entah.
Siti bangkit dan memandang dirinya di depan cermin. Ia tersenyum sendiri, ngungun.
***
Senja menerbitkan gelap di ufuk barat. Suara azan magrib mengumandang. Emak mendatangi kamar Siti. Mengetuk pintu perlahan.“Siti, sembahyang magriban dulu. Tak elok anak perawan tidur maghrib, nanti jauh jodoh.”