Teror Sarung Tangan

Lampu hidup kembali. Ayah dan Ibu Elektra telah pulang dengan membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka 17 di atasnya.

Happy Birthday to you, happy birthday to you, happy birthday Elektra!” Ayah dan Ibu bernyanyi sembari tersenyum. “Yah akhirnya rencana kita berhasil!” Seru Ibu.

Dengan wajah ketakutan, Elektra menangis dan kesal. Lalu dia berlari memeluk kedua orang tuanya.

“Gak lucu tau!” Ketus Elektra sambil menyeka air matanya.

“Eittss nanti dulu marah-marahnya, sekarang kamu tiup lilinnya.” Seru Ibu.

Elektra meniup lilinnya dalam hitungan ketiga, dan matanya tertuju kembali dengan sarung tangan yang merangkak-rangkak di bawah meja. Membisikkan kepada Ayah dan Ibunya apa yang dia lihat, lalu bertanya kepada Ayah dan Ibunya apakah yang ada di bawah meja bagian dalam rencana mereka atau tidak. Kedua orang tuanya serentak menggelengkan kepala, perlahan mereka bertiga berjalan ke arah sarung tangan tersebut.

“Satu…dua…tiga! Happ!” Seru mereka bertiga menangkap sarung tangan tersebut.

Perlahan Ayah membuka sarung tangan tersebut, dengan dikejutkan seekor tikus yang melompat ke luar. Mereka bertiga terkejut, dan tertawa bahagia bersama.

Ternyata di balik sarung tangan tersebut bukan makhluk halus melainkan seekor tikus.

 

Lince M. Hia. Siswa parulian 2.

Arsip Cerpen di Indonesia