Oleh Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 07 April 2019)

“Sandal kulitku hilang!” teriak Kiai Somad panik.
ZUL yang baru saja selesai berdoa bergegas keluar masjid. Ikut mencari sandal Kiai Somad yang hilang bersama jamaah lainnya.
“Kalau sandalnya Kiai yang hilang pelakunya benar-benar keterlaluan, Zul,” ucap Fadil mengepalkan kedua tangannya, marah.
“Kamu benar, Dil. Kita harus menyelidiki siapa pelaku di balik hilangnya sandal-sandal jamaah masjid.” Zul menyibakkan ilalang di halaman samping masjid. Berharap bisa menemukan sandal Kiai Somad yang hilang sebelah kanannya saja.
“Kira-kira siapa pelakunya?” tanya Rifki ikut nimbrung dengan kain sarung sudah dililitkan di leher.
Zul mengangkat bahunya, tidak tahu. Dia belum mendapat cukup bukti menemukan pelakunya. Siang itu sandal Kiai Somad bagian sebelah kanannya benarbenar tidak ketemu. Lenyap begitu saja tanpa tahu siapa yang mengambil.
“Kalian merasa aneh tidak, sih? Setiap kali ada sandal jamaah masjid yang hilang pastilah hanya bagian sebelah saja. Kalau seseorang telah mencuri sandal-sandal itu tidak mungkin kan hanya bagian sebelah kanan atau kiri saja,” ucap Zul saat mereka berkumpul di pos ronda, sore hari.
Fadil manggut-manggut. Membenarkan apa yang dikatakan Zul barusan. Dia juga merasa ada yang aneh dengan hilangnya sandal-sandal jamaah masjid sewaktu shalat Jumat. Selain shalat Jumat, sandal jamaah yang tersusun rapi diundakan atau tempat sandal sudah tentu aman. Tidak ada yang hilang.
“Jangan-jangan Mak Iyang pelakunya. Bukankah kita sempat melihat perempuan setengah gila itu berkeliaran di halaman masjid sebelum shalat Jumat dimulai,” tutur Rifki mengatakan apa yang dilihatnya.
“Bisa jadi, Ki. Secara Mak Iyang kan tidak waras. Mungkin dia mengambil sandal hanya untuk dibuang atau disimpan.” Fadil ikut-ikutan.
Zul menghela napas panjang. Dia tampak berpikir keras. Teringat olehnya nasihat Kiai Somad usai belajar mengaji.