“Sandalku hilang!” teriak salah seorang jemaah yang membuat langkah Zul, Rifki dan Fadil terhenti.
Mereka bertiga tidak percaya akan hal itu. Terlebih Zul yang sejak dimulai khutbah sampai berakhirnya shalat Jumat dia selalu mengawasi sandal-sandal milik jamaah masjid. Tidak mungkin dia kecolongan.
“Secepat itukah?” tanya Zul kepada dirinya sendiri.
“Maksud kamu, Zul?” Fadil bingung sendiri.
“Tadi aku sempat buang air kecil sebentar. Setelahnya aku balik lagi mengawasi sandal-sandal milik jamaah.”
Ketiganya hanya bisa mendesah. Mereka pulang dengan muka ditekuk. Belum juga berhasil mengungkap pelaku yang mencuri sandal-sandal milik jemaah masjid.
Jumat berikutnya Zul dan teman-temannya menyerah. Zul yang waktu itu disuruh mamaknya membelikan garam di warung membuatnya terlambat sampai di masjid. Azan Jumat baru saja selesai dikumandangkan. Zul yang belum berwudhu terpaksa pergi ke tempat wudhu. Saat itulah dia memergoki seekor kucing tengah berjalan menuju gudang belakang masjid. Gudang yang digunakan untuk menyimpan keranda dan beberapa peralatan masjid yang sudah tidak digunakan lagi.
“Kucing siapa itu?” Zul terheran melihat ada kucing yang gemuk berkeliaran di masjid. Diikutinya kucing tersebut sampai ke belakang gudang. Dan terperangahlah Zul dibuatnya saat melihat tumpukan sandal milik jamaah yang selama ini dikira hilang diambil oleh Mak Iyang.
Usai shalat Jumat. Zul memberi tahu Kiai Somad dan kepala kampung kalau sandal jamaah yang selama ini dianggap hilang telah diketemukan. Dengan dibantu Rifki dan Fadil, Zul membawa kembali sandal-sandal dari belakang gudang. Betapa senangnya Kiai Somad ketika melihat sandal kulit kesayangannya yang merupakan oleh-oleh anaknya dari luar kota itu ditemukan.
Dan kucing yang selama ini menyembunyikan sandal-sandal itu ternyata milik Pak Haji Tohir. Mereka pun tergelak. Tidak menyangka kalau kucing Pak Haji telah membuat mereka resah selama ini. Zul yang terlihat paling bahagia. Dia teramat senang karena berhasil menemukan sandal-sandal jamaah yang hilang sekaligus mengetahui kalau kucing Pak Haji Tohirlah yang menjadi pelakunya. (***)