Topeng Arum

Menahan diri, Arum mengendalikan dorongan dari dalam batin agar tak mendekati Gani. Ia mengurungkan hasrat membeli semua topeng yang selesai dipahat dan sempurna dicat.

Berhenti memahat, Gani mengangkat muka, memandang sosok bayangan di bawah pohon kersen. Tak terlihat siapa pun, tak tertangkap sosok bayangan di sana. Gani mengisap rokok, menenggak kopi, bimbang sesaat, antara berkeinginan menyelidiki sosok bayangan itu atau membiarkannya berlalu. Hampir saja ia bangkit. Ingin melangkah ke bawah pohon kersen. Dia urungkan. Ia kembali memahat: terpaku pada rautan topeng.

Serupa bayangan yang menghilang, Arum sudah berada di pelataran rumah Dewi Laksmi. Berdiam di bawah pohon kersen, mendengar suara tangis bayi dari balik jendela kamar yang tertutup. Ia mendengar suara Dewi Laksmi yang menenteramkan bayinya. Arum teringat saat malam-malam menyusui bayi mungil Dewi Laksmi dulu, dengan isapan yang kuat, dan ketenteraman setelah menyusui. Tubuh Arum menggigil, menahan diri untuk tidak menghambur ke jendela kamar Dewi Laksmi. Dari suara tangis bayi itu ia tahu, cucu keduanya seorang lelaki.

Termangu di bawah pohon kersen itu, Arum memperturutkan getaran hati, yang tak bisa ditahan, tak bisa dikendalikan. Ia sangat ingin melihat wajah cucu lelakinya. Apakah ia mewarisi ketampanan menantunya?

Arum menjauh dari bawah pohon kersen, ketika mendengar langkah Dewi Laksmi mendekati pendapa, memutar anak kunci, dan pintu terkuak. Dewi Laksmi menggendong bayinya, menghambur ke pelataran, berdiri di bawah pohon kersen. Tangis bayi mereda, bahkan berhenti seketika. Memandangi bulan merah, memandangi kelelawar-kelelawar yang berkelebat di dahan-dahan kersen, menggugurkan buah-buahnya, ranum, terserak.

Sambil mengayun-ayun tubuh bayi lelakinya, Dewi Laksmi sempat menangkap sosok bayangan perempuan setengah baya, dan tak sadar memekik, “Bunda, ini cucu lelakimu!”

Tanpa menoleh, Arum terus melangkah menjauh, serupa bidadari terbang ke kahyangan ñ tak tersentuh tangan manusia, meski itu anaknya sendiri. Ia berharap, suatu saat Bunda, yang kini menjelma bidadari, berkenan menemuinya, meski dengan jalan sembunyi-sembunyi pada malam larut bulan merah. Arum bergegas kembali ke sanggarnya, menyempurnakan tarian topeng yang tengah dia ciptakan.

Arsip Cerpen di Indonesia