Ciko

Kutinggalkan penjual anjing. Aku tidak mendapatkan titik terang mengenai keberadaan anjingku. Ia seperti ditelan bumi. Tanpa bekas tanpa ada berita. Kuberanikan mengunggahnya di FB. Ramailah komentar yang kudapat. Ada yang menyuruhnya melaporkan kepada pihak berwajib. Ada yang menyuruh agar aku bersabar karena kehilangan adalah bagian dari keberadaan. Beragam komentar yang seakan-akan menjadi penasihat jiwa.

“Ciko! Ciko! Ke mana kau pergi tanpa jejak.”

Pasti anjingku sudah jadi satai. Kucari penjual satai anjing. Aku memata-matainya. Sampai ada yang nyeletuk. “Suka satai anjing, ya?”

Aku gelagapan saat ditanyai seperti itu karena tidak tega memakan satai anjing. Aku pura-pura saja. “Suka,” jawabku sekenanya. Tanpa kuduga ia memesankanku seporsi satai anjing.

“Ini makan Beli! Ini daging anjing masih segar. Ia anjing peliharaan.”

“Terima kasih. Tiang bawa ke rumah saja.” Kecurigaanku semakin menjadi. Pastilah anjingku sudah menjadi satai dan rawon?

“Di sini saja makan. Kebersamaan itu penting. Tiang sudah pesankan tuak juga.”

“Waduh ini gawat,” bisikku. “Maaf tiang bawa ke rumah saja.”

“Baiklah kalau begitu. Bungkus saja.”

Aku menenteng satai anjing. Telah jauh dari penjual satai anjing, kubuang saja di saluran air. Hulu hatiku mau muntah. Keringat dingin mengaliri tubuhku. Aku berusaha menghirup udara. Ada kesegaran di dadaku. Aku kembali pulang. Tak ada berita yang kudapat dari penjual satai anjing. Aku menjadi kesepian. Anjing kesayanganku, Ciko tak terdengar suaranya. Kehilangan yang dikasihi ternyata berat juga meskipun hanya seekor anjing. Mungkin karena Ciko sudah kuanggap teman karibku. Bagaimana tidak. Jika aku jalan-jalan, pastilah Ciko yang menemani. Tanganku menenteng tali pengikatnya. Kubawa mengelilingi kota. Saat bertemu dengan kawanan anjing, anjingku menjadi idola. Ia dikerubuti oleh kawanan anjing. Menjadi seleberitis di kalangan anjing. Bulunya yang bersih karena sering kukeramasi dan terkadang kuajak ke salon anjing. Kegagahannya semakin tampak. Aku tahu anjing betina yang paling sering mendekatkan tubuhnya ke anjingku ada maunya. Terkadang aku tertawa geli juga. Anjingku pura-pura tak kenal betina. Padahal, ia doyan sekali sama betina. Ramailah di sekitarku, anjing bersama pemiliknya. Seakan-akan menjadi tokoh dadakan anjingku.

“Di mana beli? Di mana beli?”

Arsip Cerpen di Indonesia