“Apa kamu juga ingin kumangsa?”
“Burulah kalau kaubisa.”
Ular Selan geram. Ia segera memburu Biawak. Terjadilah perkelahian seru antara keduanya. Iguana cemas menyaksikannya. Jangan-jangan Biawak kalah dan malah dimangsa ular Selan yang liar itu.
Rupanya perkelahian itu bergeser ke barisan pohon-pohon kelapa hutan. Iguana segera naik ke atas pohon kelapa untuk melihatnya. Biawak mendesis-desis menyerang ular Selan dengan lidah menjulur-julur.
Jika gigitannya melukai, maka siapapun yang terkena akan beku pembuluh darahnya karena keracunan. Namun pada saat Biawak menjulurkan lidahnya, dirasakannya darah keluar dari ujung lidahnya. Rupanya lidahnya tersayat ilalang yang tumbuh dekat pohon kelapa.
Biawak mengerang kesakiran. Pada saat yang sama ular Selan segera menyerang dan melilit tubuh Biawak. Nyawa Biawak sudah di ujung tanduk.
Iguana terkejut. Ia berpikir keras untuk menyelamatkan Biawak dari kematian. Ia naik terus naik ke atas pohon kelapa sampai menyentuh buahnya yang sudah tua dan sebentar lagi akan lepas. Dengan kekuatan tenaganya, buah kelapa itu didorongnya kuat-kuat. Sebutir buah kelapa tua itu ada yang menimpa kepala ular Selan. Ia pingsan. Sementara Biawak selamat dari bahaya.
Sejak kejadian itu, ular Selan menyadari kesalahannya. Ia tidak lagi menyimpan iri pada Iguana. Ia menyadari bahwa setiap makhluk yang diciptakan Allah memiliki kelebihan masing-masing.
Namun, buah dari perbuatannya telah mendapatkan ganjaran. Kepalanya tidak lagi bulat melainkan menjadi gepeng karena kejatuhan buah kelapa.
Sementara Biawak kemudian lidahnya menjadi bercabang karena tersayat ilalang ketika menolong Iguana. Dan Iguana tetap sulit diburu karena memiliki kemampuan mengubah warna kulit mengikuti tempatnya yang disebut kamuflase. (49)