Oleh Faris Al Faisal (Suara Merdeka, 14 April 2019)

Tak seperti biasanya, sore ini biawak tak menemukan ikan-ikan kecil untuk disantapnya sebagai makan sore. Ia memutuskan untuk kembali dari pantai ke tempat tinggalnya di dalam hutan.
Langkahnya merangkak melewati lumpur dan akar bakau yang centang perenang sebelum sampai di bawah pohon besar. Binatang melata serupa bengkarung besar itu berhenti manakala dilihatnya seekor Iguana berlari mendekatnya.
“Ada apa? kamu seperti dikejarkejar setan?”
“Aku sedang diburu ular Selan. Dia memang setan! Memangsa banyak penghuni hutan ini,” ucapnya tersengal-sengal seperti mau kehabisan nafas. ”Lihatlah ekorku, hampir putus digigitnya.”
“Kalau begitu kamu bersembunyilah di akar pohon ini. Biar nanti aku yang akan menghadapi,” seru Biawak. Biawak memang sudah mendengar desas-desus tingkah ular Selan yang membuat seisi hutan kisruh.
“Baiklah. Terima kasih sebelumnya,” ucap Iguana. Tapi sebelum Iguana itu bergerak, ular Selan datang.
“Rupanya kamu di sini, Iguana!” seru ular Selan geram.
Sebelumnya ular Selan baru saja melahap tikus hutan dan sekarang ingin mengenyangkan perutnya dengan tubuh Iguana. Ia pun sangat ingin mencicipi kelezatan dagingnya.
“Ke marilah! Aku akan memakanmu!”
“Sebentar!” ucap Biawak mencegah langkah ular Selan.
“Jangan ikut campur kalau kau tak ingin kumangsa juga.”
“Sabar, Kawan. Aku ingin tahu dulu duduk persoalannya agar jelas.”
“Aku benci pada Iguana.”
“Kenapa?”
“Aku kesal, karena selama ini tak pernah bisa memangsa Iguana yang memiliki kemampuan merubah warna tubuhnya.”
“Itu namanya kamu iri dengan kelebihan Iguana. Tidak baik, Kawan.”
“Tidak peduli! Terserah apa katamu! Biarkan aku menangkapnya.”
Tapi Biawak tak juga memberi jalan. Ia mencoba menghadang.