Sebuah Kabar dari Teman Kelas

Anak-anak yang tidak ikut bermain, bergegas menuju ruang kelas untuk kembali menerima pelajaran dari guru.

“Kita harus selesaikan permainan. Kalau dilanjut, kami pasti menang.”

Mereka lalu berunding beberapa menit kemudian, kedua tim tak lama akhirnya sepakat agar tidak masuk kelas. Dan agar tidak didapati oleh kepala sekolah, mereka sepakat menyelesaikan permainan di lapangan belakang warung yang penuh dengan banyak sampah. Lapangan yang berjarak satu kilometer dari sekolah.

Kedua tim kembali bermain, memulainya dengan skor kacamata. Namun sebelum Cakalang melempar servis ke arah Jilo, tiba-tiba sebuah ide muncul dalam kepala mereka.

“Bagaimana kalau kita taruhan. Lima puluh ribu.”

“Tapi itu judi.”

Jabere’ teringat nasihat guru agamanya. Saat itu, guru mengatakan bahwa judi adalah perbuatan haram dan berdosa bagi siapa saja yang memainkannya.

“Bilang saja kalau kau takut kalah.”

“Aku tidak pernah takut kalah. Aku hanya takut pada Neraka.”

“Memangnya kau pernah jalan-jalan ke Neraka?”

Jabere’ dan kawan-kawan saling memandang mata. Bingung harus menjawab apa yang diucapkan Cakalang barusan. Entah mengapa, pikiran setan mereka tiba-tiba semakin menggoda di dalam kepala. Dan akhirnya Jabere’ pun sepakat untuk memasang taruhan lima puluh ribu rupiah diikuti dengan rekan setimnya. Mereka saling patungan dari uang jajan sekolah yang diberikan orang tua.

Permainan telah berlangsung beberapa menit, kedua tim saling berbalas serangan. Uang lima puluh ribu rupiah menambah sensasi mereka dalam keseriusan bermain di atas lapangan. Barangkali jika menang, makan indomie campur telur bersama di warung adalah perayaan kemenangan yang paling istimewa.

Kali ini, set pertama dimenangkan dari tim Cakalang dengan skor 21-19. Sebuah gerakan tipu daya dari Jilo, membuat bola terpaksa menciumi tanah terlebih dahulu sebelum ditepis Samelang. Set pertama telah selesai. Mereka beristirahat beberapa menit, mengatur kembali strategi permainan. Lalu kemudian kembali memulai pertandingan di set kedua.

Saat set kedua baru mau dimulai, kedua tim tiba-tiba teringat sesuatu.

“Tunggu dulu.”

“Astaga!”

“Ada apa, Jabere’?” Tanya Cakalang dengan penuh keheranan.

Arsip Cerpen di Indonesia