Sebuah Kabar dari Teman Kelas

“Aku lupa, ternyata ini hari kita ulangan Matematika.”

Mendengar hal itu. Kedua tim, secepatnya berkemas menuju ruang kelas. Permainan sepak takraw terpaksa dihentikan. Pertandingan sepak takraw pun seolah beralih ke pertandingan lari cepat. Mereka berbondong-bondong dengan napas yang tersisa menuju ruangan.

“Aku tak ingin tinggal kelas, ayah pasti akan memukuliku sampai di rumah.” Suara batin Cakalang sambil menambah kecepatan larinya menyisir pasir pantai.

Cakalang dan lainnya tak lama akhirnya tiba di ruangan kelas. Sesampainya di sana, mereka tak menemui siapa-siapa. Tak ada lagi teman kelas ataupun guru-guru. Kelas sepi macam kamar mayat di rumah sakit.

“Apakah ulangannya sudah selesai?”

“Ah, tidak mungkin. Padahal ini belum masuk jam pulang sekolah.

“Jabere’, coba kau cek ruang guru.”

Jabere’ berlari ke ruang guru, namun ia hanya menemui pintu ruangan yang sudah terkunci.

“Sial. Tak ada siapa-siapa di sana.”

“Astaga! Mairo, coba kau cek perpustakaan, barangkali ada anak-anak di sana yang sedang membaca.”

Mairo bergegas menuju perpustakaan. Lalu beberapa waktu kemudian ia kembali dan melaporkan dengan jawaban yang sama. “Tak ada siapa-siapa juga di sana, perpustakaan terkunci.” Mereka pun akhirnya saling menatap. Bayang-bayang tinggal kelas membuat mereka ketakukan.

“Ah! Apa mungkin aku akan tinggal kelas? Aku tak ingin pulang ke rumah jika itu terjadi.” Cakalang memukul meja di hadapannya, sembari membayangkan ayahnya sedang menunggu di rumah untuk memukulinya dengan kayu rotan.

Lalu tiba-tiba, suara gesekan sepatu terdengar dari luar ruangan.  Salah seorang teman kelas akhirnya datang, wajahnya penuh heran. Menatap mereka di dalam ruangan berlumur penyesalan. Ia datang untuk mengambil buku yang ketinggalan. Sesambil memberi kabar kepada mereka, bahwa hari ini tak ada satupun guru yang masuk mengajar.

 

Tetta Sally, Lahir di Ujung Pandang, 18 April 1994. Pegiat literasi Forum Lingkar Pena Cabang Makassar dan Komunitas Pecandu Aksara.

Arsip Cerpen di Indonesia