Taman Kesedihan

“Apakah Mas juga sedang membuang kesedihan di sini? Tak apa-apa, jujur saja.”

Ingatanku kembali pada gadis kecil dan ibunya. Apakah mereka juga dihantui kesedihan?

“Bagaimana caranya?!”

“Hahaha…ternyata benar.”

Aku merasa bodoh. Mungkin terlalu banyak membaca buku bertema konspirasi.

“Sebetulnya aku tak hendak membuang kesedihan. Aku hanya tak percaya lagi cinta,” kataku terdengar semakin konyol.

Benar saja, ia terbahak-bahak. Tapi ada perasaan lega melihatnya tertawa lepas seperti itu.

“Kalau tak percaya lagi cinta, apa yang Mas percaya di zaman ini? Medsos?” Matanya kukuh mengarah ke riak sungai di hadapannya. Seolah menemukan oase dari parade kemurungan yang sedang berkamuflase. Burung-burung liar beterbangan. Semilir angin meniup dedaunan kiara. Ia mengajakku bertakzim. Beginilah caranya membuang kesedihan, katanya.

Semampai gadis secara perlahan menghampiri dengan rambut terurai. Matanya bulat cemerlang.

“Sudah waktunya kita pulang, Papa,” ucapnya lembut dengan bibir yang merekah. Senyuman itu membuat benda di sekitarku bagai tak bergerak. Surealisme senja tercipta, penuh pesona. Menyentuh alam bawah sadarku yang jauh lewat rona wajahnya. Pertemuan ini, jangan lekas berhenti.

Baru saja kehangatan meriap, sebuah kenyataan kembali menampar. Lelaki tua itu ternyata tak bisa melihat. Si gadis memapahnya pulang, meninggalkan taman dengan sekian rasa yang berkecamuk di dada. Mengutuk kesedihanku yang terdampar sendirian.

Menuai semusim kemarau.

***

“Saat itu kamu terlihat misterius. Cantik, tapi misterius.”

Matanya yang bulat hanya tersenyum. Aku masih tak percaya perempuan yang kutemui setahun kemarin itu kini telah duduk di hadapanku. Di hari ulang tahunnya.

“Spekulatif adalah ciri khas kaum pria. Tapi aku tak keberatan.”

Sejak pertama kali jumpa aku rela menunggunya berkali-kali di taman. Saat nasib kembali mempertemukan, semua terasa begitu lancar. Ayahnya mengizinkan. Kami semakin akrab. Meski sibuk dengan pekerjaan masing-masing, selalu ada hari untuk menghabiskan waktu berdua. Banyak hal manis sejak pertemuan demi pertemuan yang dapat aku ceritakan. Sosoknya menafikan segala mimpi buruk kesedihan. Semakin berharga seseorang, kadang kita semakin takut untuk kehilangan. Mungkin karena pengaruh mitos itu.

Maka hari ini adalah saat yang tepat untuk melamarnya.

***

Arsip Cerpen di Indonesia