Waktu melesat bagai anak panah.
Betapa kota telah banyak berubah, tiap gedung berlomba-lomba paling jauh menjulang. Teknologi memberi banyak kemudahan, sekaligus kekosongan. Tapi tak ada yang berubah dengan taman ini. Tetap menawan. Kini aku duduk di sebuah bangku di pinggiran sungai menatap senja bersama Sovia, anak gadisku yang sudah beranjak remaja.
“Bagaimana Papa bertemu Mama?” tanya Sovia.
“Ceritanya panjang.”
“Ayolah. Pasti romantis.”
“Awalnya kekecewaan. Papa ingin membuang kesedihan di tempat ini. Takdir lalu mempertemukan Papa dengan Mamamu.”
“Mengapa Papa bersedih?”
“Cuma sentimentil urusan anak muda.”
“Pasti Mama terlihat cantik sampai Papa bisa terpincut.”
“Pertama bertemu, kulihat Mamamu yang berkacamata tebal, duduk manis di bangku taman seorang diri serius membaca The Alchemis’ sambil memegang sekotak susu cokelat.”
“Mama?!”
“Awalnya Papa sedang patah hati. Papa ditolak oleh seorang perempuan yang ternyata tidak mencintai Papa dengan tulus. Ia hanya ingin menghibur ayahnya yang sakit-sakitan. Setahun berhubungan ternyata ia telah membohongi Papa dan perasaannya sendiri. Ia masih mencintai kekasih lamanya. Mamamu meledek Papa, ‘Anda pasti hendak membuang kesedihan’, katanya. Kami sedikit berdebat, kemudian bertemu lagi di tempat yang sama, membicarakan banyak hal. Begitulah, sampai kemudian menikah, melahirkan kamu.”
“Mama bukan sekadar pelarian ‘kan?”
“Tentu saja tidak. Kisah cinta punya jalannya masing-masing, Sovia. Semakin menyelami, Papa semakin melihat kecantikan Mamamu yang sesungguhnya.”
“Mengapa dinamai ‘Taman Kesedihan’?
“Seperti halnya ‘Rumah Sakit’. Taman ini akan memulihkan jiwamu.”
Taman dan senja beradu rupa, laiknya permufakatan abadi bagi jiwa-jiwa penuh romansa. Ia akan meredup seiring lembayung langit yang hendak bertukar warna. Sisa keemasan jatuh di antara celah dahan. Memulangkan jiwa-jiwa sibuk, jiwa yang jengah merajuk.
Begitu manis senyuman itu tergurat. Seperti Mamanya.