Selama tiga hari aku tidak bersama Mila. Tiba-tiba terdengar kabar tentang kecelakaan Mila dan keluarga. Informasi yang kuterima tidak ada satu pun orang yang selamat. Aku syok dan pingsan.
Setelah aku terbangun dari pingsan aku merasa takut karena tidak bisa menerima kenyataan ini. Bi Tia memberikanku surat yang ternyata adalah surat dari Mila. “Rani sahabatku, aku tahu sangat sedihnya kau karena tidak bisa melihat indahnya semesta ini. Di saat aku pergi meninggalkan lebih dahulu, aku akan memberikan mataku kepadamu. Jagalah kedua mataku seperti yang menyayangiku.”
Dan inilah bunga terakhir dari sahabat sejatiku, bunga yang lebih indah dan istimewa dari bunga yang lainnya.
Nabila Anggraini. Penulis adalah siswi SD Nurul Iman.