Merayakan Kehilangan

“Ucok Durian,” kataku cepat, singkat, padat dan Zuway hanya tertawa tanda setuju.

Dua minggu setelahnya, Zuway benar-benar membawaku ke Ucok Durian, dan sebelum tiba di lokasi kami berhenti sejenak di ATM.

“Bang, kita ke ATM dulu. Sejak kerja barulah kurasakan punya uang di ATM,” ujarnya polos.

Entah benar atau tidak, tapi Zuway memang sangat polos dan sangat sederhana. Pernah suatu hari dia memakai sarung berwarna pink, waktu itu dia di-bully teman-temannya bahwa itu tak cocok dipakai cowok dan mirip cewek.

“Bang, aku lucu pakai sarung tangan ini?”

“Nggak, bagus kok.”

Zuway sangat sederhana, itulah yang membuat dia banyak disukai kaum Hawa, sudah tak terhitung berapa juniornya yang baper karena sikapnya, sikap perhatian dan lemah lembut.

Zuway usianya lebih muda dariku, tapi sikap dewasa lebih dominan daripada aku. Dia tak pernah alpa menjawab, “Insya Allah, bisa Bang,” saat aku minta tolong, yang tidak pernah lupa lapor kalau dia sedang ikut atau menang lomba. Malam itu saat di Ucok Durian dia pun banyak cerita. Tak seperti biasanya, dia cerita tentang perempuan yang menolaknya, yang terlalu mengharapkannya, dan terakhir ada perempuan yang sangat dikaguminya, namanya Ica, dia tinggal di Bandung.

***

Zuway tak bisa lama-lama di Jogja. Sebagaimana akad di awal, dia hanya ingin menjenguk, bukan untuk liburan di Jogja. Hari itu dia cerita bahwa selama tiga kali di Jogja, dia ingin mengunjungi Taman Sari. Aku sendiri tidak tahu di mana Taman Sari itu. Kami mulai berselancar di dunia maya, dan akhirnya mendapatkan lokasinya.

“Akhirnya ke sini juga aku, Bang.”

Hampir setengah hari kami habiskan waktu mengililingi Taman Sari, sambil bertukar posisi untuk difoto dan memfoto.

Ini hari terakhir Zuway di Jogja, selanjutnya dia akan melanjutkan perjalanan ke Bandung. Aku antar dia sampai stasiun, sampailah di pintu keberangkatan. “Bang, aku kok sedih ya mau pisah sama Abang.”

Mendengar itu aku tertawa.

“Ah, lebay kau, Way.”

“Ayo kita foto dulu, Bang!”

“Ah, gak usah Way, gak ada yang motoin kita.”

Arsip Cerpen di Indonesia