Tapi Zuway tak putus asa, dia berlari kecil menghampiri seorang bapak. Sore itu bersama senja yang akan menghilang, ikut mengantarkan Zuway ke Bandung.
Zuway pekerja keras, setiap lomba yang diikutinya sangat jarang gagal. Malam itu dia mengirim pesan bahwa dia terpilih sebagai peserta kirab pemuda 2018. Rasanya bulan dan bintang pun aneh dengan sikap girangku malam ini, seisi kamar pun penasaran.
***
Pagi ini aku mendapat pesan dari Zuway, dia tag aku foto makanan khas Jogja di akun Instagram.
“Kayaknya enak ini Bang,” tulisnya.
“Datanglah Way ke Jogja lagi,” balasku.
Satu jam setelahnya, kubuka ponsel, antara percaya atau tidak, di sana ada pesan tertulis “Inna lillahi wa innaa ilaihi raajiun, Bang Zuway meninggal.”
Aku terpaku, kubaca ulang pesannya dan benar kabarnya. Pagi itu Zuway test urin di sebuah rumah sakit di Medan. Saat giliran namanya dipanggil, dia berdiri dari tempat duduk. Belum sempat melangkah, tiba-tiba tubuhnya roboh, Zuway sudah tak bernyawa.
Ah, Zuway pulang tanpa pamit, tanpa mengirim pesan sedikit pun. Zuway mengirimkan guru killer bernama kehilangan. Iya, kehilangan adalah guru buatku. Setiap bangun tidur, ulu hatiku sedikit nyeri, ada rasa belum yakin bahwa Zuway sudah tidak ada lagi di dunia ini… *
Agustus 2018