Wayang Kardus

Wayahan Supat beranjak ke warung di belakangnya. Segelas kopi hangat dengan wangi mengepul, sebatang rokok bermerk, dan satu bungkus nasi masih terasa hangat di tangan, diserahkannya kepada lelaki tua itu. Selembar sepuluh ribuan tadi masih kurang untuk mendapatkannya.

“Kamu tidak suka merokok, tidak suka minum kopi, tidak suka sarapan. Ingin hidupmu sebening air di Tirtagangga ya? Orang-orang takut berendam di hulu mata air Tirtagangga. Bukan karena takut tenggelam atau terseret arus. Orang-orang takut mata air Tirtagangga membacakan kisah hidup mereka.”

Tidak dipungkiri, Wayahan Supat alergi kisah hidupnya diceritakan orang lain. Kisah hidup adalah ruang pribadi yang hanya bisa diketahui oleh orang yang sukacita memasukinya, bukan menunggu diceritakan sebagaimana ibunya mengisahkan usaha Galuh Pitu menyeberang sungai ketika dilanda air bah. Mata terpaku hanya pada yang tampak, telinga melebihi liar kecepatan pikir.

“Berbahagialah, kamu adalah satu dari sekian orang-orang bahagia. Hidup harus dinikmati, bukan diratapi, bukan dimaki. Sayangnya alirmu tidak selalu menemu lintas batu abadi. Melintas tanah, beningmu mengeruh. Melintas comberan, beningmu mengelam. Melintas batu kapur, beningmu memutih. Biasa.”

“Dengan duduk di sini, berceloteh sesukanya, mengabaikan orang, mungkin ada kerabat di dalamnya, lalu lalang mencibir, beginikah menikmati hidup?”

“Hidup tidak pernah patah sebagaimana ranting lapuk ditekuk. Begini cara bapak berbahagia. Jika tidak dengan cara begini, apakah mungkin pagi-pagi segelas kopi wangi, sebatang rokok bermerk, dan sebungkus nasi hangat dengan ringan berpindah ke tangan bapak? Dengan cara begini bapak menggiring orang-orang menikmati diberi dan memberi. Sederhana.”

“Tapi menyakitkan.”

“Orang-orang berlapang hati.”

“Mungkin tidak bagi kerabat bapak.”

“Ya. Sepotong daging, atau seekor ikan, atau beberapa butir buah, atau beberapa ikat sayur yang bapak ambil di pasar, dibiarkan dengan tambahan umpatan, mereka turut berbahagia menikmati. Mereka tidak pernah mempertanyakan cara bapak mendapatkannya. Mereka bahagia, bapak juga bahagia.”

“Mungkin bukan pada tempatnya kerabat bapak bertanya.”

Arsip Cerpen di Indonesia