“Mereka tidak melihatnya, mereka tidak mau tahu. Mereka tahu bapak tidak punya uang. Mereka yakin bapak tidak mampu membeli apa pun. Sekali dua kali, para pedagang merelakan barang dagangannya diambil orang gila. Selebihnya, mereka kehilangan kesabaran. Sudahlah, jangan dengarkan celoteh bapak, jangan tonton wayang kardus bapak. Pergilah, temani istrimu, semoga cepat sembuh. Terima kasih sarapan pagimu untuk bapak. Jangan lupa nanti makan malam untuk bapak.”
Tukang parkir di rumah sakit bercerita bahwa lelaki tua itu tidak gila, hanya berlagak gila. Lelaki tua itu pensiun sesuai waktu pada sebuah instansi Pemerintah. Beban hidup menjerumuskannya demikian. Wayahan Supat yakin itu karena celotehnya logis. Bahkan Wayahan Supat hampir gusar saat ditelanjanginya, tapi Wayahan Supat kagum dengan caranya menikmati hidup. Butuh keberanian yang luar biasa.
Sebungkus nasi dengan sayur dan lauk yang cukup nikmat, sebotol tanggung air dalam kemasan, beberapa potong kue, dan beberapa butir buah yang masih segar dijinjing Wayahan Supat dalam satu kantong plastik berwarna gelap. Ditinggalkannya beberapa kerabat yang membezuk istrinya. Tergesa-gesa langkah Wayahan Supat.
Banyak orang duduk di trotoar sisi timur jalan, banyak juga orang duduk di trotoar sisi barat jalan. Wayahan Supat masih berdiri di trotoar sisi timur jalan. Tidak dilihatnya kehadiran lelaki tua itu. Tatapan Wayahan Supat menelusuri segala arah, mencari-cari sosok lelaki tua itu. Tidak tampak juga. Di mana gerangan orang yang selalu menyebut dirinya bapak itu? Seharusnya sudah lebih dari satu jam lelaki tua itu duduk di pusat tatap Wayahan Supat. Seharusnya, paling tidak, satu puntung rokok tergeletak di sana.
Bergegas Wayahan Supat mendekati tukang parkir rumah sakit. Katanya, belum dilihatnya lelaki tua itu. “Masih kerabat bapak ya?” Tukang parkir mengira lelaki tua itu kerabat Wayahan Supat, sementara Wayahan Supat menduga lelaki tua itu kerabat tukang parkir. Apakah setiap orang adalah kerabat lelaki tua itu?
“Rindu ya?” Jelas terngiang di telinga Wayahan Supat. Bergegas Wayahan Supat melangkah ke trotoar yang tidak jauh dari pos tukang parkir. Lelaki tua itu tidak tampak di trotoar seberang jalan. Wayahan Supat menyeberang jalan menuju tempat biasa lelaki tua itu duduk dan memainkan wayang kardusnya. Terpana Wayahan Supat menatap empat wayang berbahan kardus tergeletak di atas trotoar. Diletakkannya makanan yang dibawanya di samping wayang berbahan kardus itu, berharap lelaki tua itu datang dan dengan senang hati menyantap makanan itu. Celoteh gila itu menoreh menyadap dinding ruang hatinya.