Ketika Bintang Telah Redup

Ibu guru Zakia sering memperhatikan Bintang saat belajar di dalam kelas, ia sulit berkonsentrasi dan fokus dalam belajar, ia memang duduk di bangkunya tapi seakan pikirannya melayang kemana-mana, seakan ada sesuatu hal yang ia pikirkan, seakan ada beban berat yang tengah ia pikirkan, kemanakah Bintang yang dulu? Bintang yang memiliki senyuman paling indah di hati ibu gurunya, kedua mata itu tak lagi memunculkan kedamaian ketika memandangnya, di dalam kedua matanya itu hanya menyisakan kepedihan yang mencekam. Bintang, kemanakah perginya senyum terbaik yang pernah kau miliki? Bahkan sekarang kau sudah lupa bagaimana caranya untuk tersenyum.

Pada akhirnya ibu guru Zakia memutuskan untuk menemui kedua orangtua Bintang di saat freelest jam pelajaran, di jam kosong tersebut ia lebih leluasa untuk pergi, bersebab tidak ada jam mengajar di dalam kelas. Di dalam perjalanan menuju rumah Bintang, hati ibu guru Zakia tak pernah berhenti memikirkan tentang anak muridnya tersebut. Sesampainya di rumah Bintang, ibu guru Zakia disambut oleh perempuan tua yang tak lain adalah neneknya, ternyata selama ini Bintang tinggal dengan neneknya, sementara ibu dan ayahnya sering tidak ada di rumah lantaran dinas ke luar kota, ayah dan ibu Bintang sama-sama orang sibuk, punya karir tinggi dalam pekerjaannya. Hal demikian membuat mereka berdua sering meeting di luar kota dan jarang ada di rumah, tinggallah Bintang bersama neneknya, tak bisa dipungkiri Bintang lebih dekat dengan nenek dan kakeknya ketimbang kedua orangtuanya sendiri. Melihat kedatangan ibu guru Zakia, mendadak pias wajah nenek Bintang berubah menjadi kuyu dan nelangsa, seakan ada beban berat yang ia sembunyikan di hati sanubarinya.

“Saya ibu gurunya Bintang, sebenarnya sudah lama saya ingin datang ke rumah ini, karena belum memiliki keluangan waktu maka keinginan tersebut selalu saja tertunda, untunglah hari ini, keinginan saya dapat terwujud,” ibu guru Zakia tersenyum dengan lepas, sesungguhnya hatinya sangatlah bahagia, kebahagiaan tersebut terpancar dengan jelas dari gurat wajahnya.

“Sebagai gurunya Bintang saya memiliki hak dan wewenang untuk mengetahui keadaan Bintang yang sebenarnya. Akhir-akhir ini Bintang menunjukkan gejala sikap yang tak biasa, terlebih prestasi belajarnya turun secara drastis, sepertinya ada sesuatu hal yang mengganjal hati dan pikirannya, saya bermohon dengan sangat, sudilah kiranya nenek menjelaskan segala yang tengah terjadi pada diri Bintang tanpa ada menyembunyikannya sekalipun?” ibu guru Zakia menatap penuh arti ke arah neneknya Bintang, kedua mata mereka saling menatap dalam kesiur diam yang terpendam.

Arsip Cerpen di Indonesia