Ketika Bintang Telah Redup

Siluet-siluet jingga bergumul pada pucuk dedaunan eboni, pagi masih meninggalkan tanda tanya yang lebam pada persinggahan waktu yang pengab, hari seperti bayangan selalu cepat usai padahal ia belum meninggalkan bekas pada sayatan jejak matahari, sesekali ibu guru Zakia menatap ke arah pintu gerbang sekolah, berharap sosok yang dinantinya hadir sebagai penyejuk kerinduannya, sudah hampir sebulan Bintang tak masuk sekolah, pembelajaran demi pembelajaran berlalu tanpa kehadirannya, kelas tampak terlihat hambar tanpa kehadirannya. Ibu guru Zakia tak bisa menahan keharuannya ketika Hasana, Arnis, Jauza dan Khaira menanyakan kabar Bintang, mereka bertiga terbilang akrab dengan Bintang dalam kesehariannya, terlebih Hasana, ia mengatakan kepada ibu guru Zakia, kalau ia rindu ingin segera bermain lagi di jam istirahat bersama Bintang. Kasihan sekali Bintang, ia harus mengalami pemeriksaan fisik secara berulang dan pemeriksaan laboratorium seperti tes darah biopsy dengan pengambilan sampel pada sumsum tulang belakang, hal itulah yang menyebabkan Bintang tak bisa lagi datang ke sekolah. Sungguh ibu guru Zakia merindui Bintang.

Tiga hari kemudian, setelah apel pagi, bapak kepala sekolah menyampaikan berita duka cita, Bintang telah meninggal dunia pada pukul lima pagi di rumah sakit, seluruh warga sekolah dirundung duka, siswa terbaik di sekolah Mis Alfatih telah berpulang ke sisi Ilahi Robbi, ibu guru Zakia berusaha untuk tampil prima dan tegar di hadapan semua anak-anak didiknya, namun airmata itu tak mampu terbendung ketika semua anak-anak didiknya berlari ke arahnya dan memeluknya, mereka telah kehilangan sahabat terbaik yang paling berarti. Hasana menangis histeris dipelukkan ibu guru Zakia, di antara semua teman-temannya, ia yang paling mengenal dan dekat dengan Bintang. Pembelajaran di sekolah sudah usai pada pukul 09.00 pagi, lantaran semua guru-guru akan berangkat takziah ke rumah Bintang.

Pemandangan yang mengiris hati saat menyaksikan kedua orangtua Bintang menangis histeris sembari meratap dengan penuh keharuan di depan jenazah anaknya, semenit pun mereka tak ingin jauh dari anaknya, dahulu ketika anaknya masih ada mereka sering pergi jauh hanya demi perkara pekerjaan, saat ini mereka tak ingin anaknya segera diberangkatkan ketika selesai disholatkan, mereka ingin tetap memeluk anaknya tanpa pernah melepaskannya, dahulu ketika anaknya masih ada, ketika ia ingin dipeluk kedua orangtuanya karena ia merasa takut, kerinduan sang anak untuk dipeluk kedua orangtuanya selalu saja sirna, bersebab sosok kedua orangtuanya tak pernah ada ketika dibutuhkan. Dalam diam, dalam tangisan yang terpekur, ada doa yang terucap tulus dari hati ibu guru Zakia, bermohon kepada Ilahi Robbi untuk memberikan tempat terbaik untuk Bintang serta memberikan kesabaran kepada kedua orangtua Bintang, mereka tak pernah membayangkan bahwa anaknya akan pergi secepat ini, pergi tanpa pernah merasakan kehangatan cinta kasih dari kedua orangtuanya.

Arsip Cerpen di Indonesia