“Apakah kalian akan kokoh dengan kesombongan kalian sendiri?” Awan berkata di hadapan hujan dan salju.
“Lihatlah, anak-anak itu, mereka kepanasan dan kekeringan. Mereka selalu berkata, di mana hujan dan salju yang selalu membuat mereka bahagia?”
Awan menatap mereka.
“Walaupun kalian berbeda, namun kalian juga diciptakan dari jenis yang sama, yakni air. Apa yang kalian berdua tuduhkan itu tidak benar, kalian juga memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat. Walaupun engkau salju beku dan hujan air, kita jenis yang sama, dan juga memiliki asal dan proses yang sama juga. Jadi untuk apa, kalian bertengkar padahal hanya beku atau cairnya saja yang membedakan.”
Salju dan hujan terdiam, lalu mereka saling menatap. Hujan mengajak salju untuk turun ke bumi bersama-sama. Awan tersenyum melihat mereka akur. Ketika hujan dan salju mendarat di bumi, mereka disambut tawa dan nyanyian anak-anak dan orang dewasa dengan syukurnya.
“Maka dari itu, kalian ini saudara. Walaupun jenis rambut kalian berbeda, namun kalian berasal dari asal dan keluarga yang sama, yaitu ayah dan ibu. Jadi, kalian tidak boleh mengejek jenis rambut saudara sendiri. Satu lagi, jangan pula sombong.”
Hujan yang sudah mulai mereda, Jernih duduk di belakang kedua adiknya, lalu menyisir rambut adiknya secara bergantian. Tawapun tercipta di suasana yang dingin. ***
Putri Oktavia. Penulis adalah siswi yang aktif dikomunitas Gen PenA (Generasi Penulis Al-washliyah).