Oleh Putri Oktavia (Analisa, 28 April 2019)

Suasana sore di awan sangatlah temaram. Berkabut, kemudian dingin. Dua anak perempuan saling tarik menarik baju dan ejek mengejek bentuk rambut saudarinya.
“Lihatlah bentuk rambutmu, keriting. Tidak sebanding dengan bentuk rambutku yang lurus.” Kata Ardhia dengan angkuhnya.
Nurul yang tak terima, membalas cercaan saudarinya itu. “Apa kau tak menyadari, rambutmu memang lurus, tapi rambutmu dengan rambuku masilah panjang dan lebat rambutku daripada milikmu.”
Hujan yang lebatpun tak juga melerai pertengkaran mereka. Jernih, kakak tertua mereka melihat sambil geleng-geleng kepala, lalu menghampiri kedua adiknya itu.
“Hei, kenapa kalian saling mengejek bentuk rambut masing-masing?” Tanya Jernih merangkul adik-adiknya.
“Nurul, Kak, yang memulainya. Dia berkata rambutku pendek dan sedikit.” Ardhia menyela.
“Kau bilang aku. Tidak, Kak, dia berbohong.”
Kesal dengan cekcok adik-adiknya itu, Jernih berdiri dan membuka kain gorden yang menutup jendela.
“Kenapa dibuka, Kak, di luarkan hujan?” Nurul bertanya karena bingung.
“Lihatlah hujan itu. Di negara yang memiliki empat musim, musim hujan tidak selalu mendatangi tempat mereka seperti di tempat kita. Tapi yang kakak suka dari musim ini yakni musim salju.”
Nurul dan Ardhia bengong.
“Kakak pernah membaca kisah hujan dan salju. Diceritakan, di negeri awan yang gelap, selalu ada percekcokan dua saudara. yakni hujan dan salju. Mereka selalu berdebat tentang siapa yang selalu membuat anak-anak di bumi ketakutan. Hujan yang angkuh selalu menyalahkan salju. Hujan juga selalu berkata, kalau saljulah yang membuat bumi beku karna dinginnya. Salju pun tak kalah, ia juga menuding hujanlah yang membuat anak-anak, bahkan orang dewasa takut dengannya. Mereka tak henti-hentinya bertengkar. Hingga pada suatu hari, karena hujan dan salju selalu bertengkar, bumi dilanda kekeringan dan panas yang tak tertahankan. Mereka tak mau turun kebumi karena keangkuhan mereka. Sampai, ada awan yang sangat bijaksana datang dan menasihati mereka.