Insomnia

“Di bawah cahaya temaram lampu-lampu kota, Pemulung Perasaan akan mengaitkan tali untuk mengikat perasaan satu dengan lain, membentuk sebuah kalung. Pada saat-saat tertentu, perasaan itu akan memperdengarkan kembali kesedihan yang tersimpan; teriakan, tangisan, rintihan. Dengan begitu, Pemulung Perasaan tak merasa bersedih sendirian. Dia pulang dengan perasaan senang.

“Suatu malam yang dingin, seorang wanita menatap kaca jendela yang berembun. Dia membiarkan air matanya jatuh ke dalam secangkir kopi, lalu mengkristal di atas ampas. Wanita itu membuka satu per satu benik kancing dari lubang baju. Memamerkan dada ranum penuh jahitan. Dia menarik benang dari salah satu jahitan, lalu memotong perasaan yang menyembul keluar dari dada. Dia buang perasaan itu sekuat tenaga lewat jendela. Dia beranggapan, tanpa perasaan hidup bakal tenang. Wanita itu membayangkan, Pemulung Perasaan diam-diam mengambil sekaligus merawat perasaan yang dia buang.”

Nia memejamkan mata seraya mendengarkan cerita. Nia berpura-pura tidur. Nia tak ingin menjadi anak durhaka dengan melanggar perintah Mama.

“Selesai.”

Hening.

Nia menerka cerita yang Mama baca telah tamat. Nia merasakan ada sesuatu yang sedikit basah nan lembut menyentuh kening. Nia sangat ingin membuka mata. Namun Nia terus menahan kelopak mata agar tak terbuka. Sampai-sampai kedua matanya berkedut. Nia merasakan ada embusan hangat di sekitar telinga. Dia merasa agak geli.

“Nia, apakah kamu tahu wanita dalam cerita itu?”

Nia mendengar bisikan. Tak sebegitu jelas. Telinga Nia hanya menangkap kata “tahu”. Nia menyipitkan mata. Seperti mencoba memastikan sesuatu. Samar-samar Nia mendapati Mama mengendap-endap, berjalan bersijingkat keluar, meninggalkan kamar.

“Selamat malam, Nia.”

***

“Jika kamu susah tidur, teruslah pejamkan mata. Apa pun yang terjadi,” kata Nia kepada boneka beruang dalam pelukannya. Nia menirukan bagaimana Mama mengucapkan kalimat itu kepadanya, sebelum memejamkan mata, setiap malam.

“Kenapa kamu masih membuka mata?” bentak Nia kesal. Nia mencungkil kedua bola mata boneka beruang itu dengan telunjuk jari, lalu menariknya hingga jahitan pada boneka itu menganga lebar. Serat-serat kapuk menyembul keluar. Hati Nia kacau, seperti ketika meletus balon hijau.*

Arsip Cerpen di Indonesia