Sejenak Nia menatap langit-langit kamar. Membayangkan ada bintang kecil berjatuhan seperti salju dalam bola kaca. Sayup-sayup Nia mendengar suara aneh. Suara itu selalu terdengar beberapa jam setelah Mama membacakan cerita dan meninggalkan kamar. Terkadang samar-samar Nia juga mendengar ada deru kendaran silih berganti datang dan seperti berhenti tepat di depan rumah. Suara-suara itu begitu mengganggu, sehingga membuat Nia tak bisa tidur. Ada sedikit rasa takut terselip dalam dada. Namun rasa takut itu seketika berubah menjadi rasa penasaran meluap-luap.
Nia berjalan hati-hati keluar dari kamar. Matanya jelalatan. Suara itu makin terdengar jelas ketika Nia sampai di depan kamar Mama yang bersebelahan dengan kamarnya.
Nia mengintip dari celah pintu yang rada terbuka. Nia melihat Mama menggeliat di atas ranjang, seperti ulat bulu. Nia mendengar lenguhan panjang, serupa suara lembu. Mama tampak kesakitan. Nia mempertajam pandangan. Mata Nia menangkap bayangan hitam berlidah panjang melilit dada Mama. Lidah itu menjelajah dada merah jambu Mama, persis seperti ketika Nia menikmati es krim stroberi pada siang yang panas. Bayangan hitam itu memperlihatkan gigi runcing, bak gigi kucing. Gigi itu menancap di bibir Mama, menarik ulur, seakan sedang mengunyah permen karet.
Nia menggigit ujung bibir bawah sampai terasa hendak pecah. Nia ingin menolong Mama. Namun langkahnya tertahan ketika sepasang mata merah menyala melotot kepadanya. Nia ketakutan. Tubuhnya gemetar. Nia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Namun mata merah itu masih tampak sedemikian jelas dari celah jarijari Nia yang tak tertutup rapat. Sejurus kemudian Nia lari tungganglanggang menuju kamarnya. Nia langsung meringkuk di bawah selimut sembari memeluk boneka beruang besar.
Tiba-tiba Nia teringat pesan Mama. “Jika kamu susah tidur, teruslah pejamkan mata. Apa pun yang terjadi.”
Nia bangkit dari ranjang. Menyingkirkan selimut dan boneka beruang. Nia meraih ransel yang menggantung di dinding. Nia membuka resleting ransel, lalu memungut wadah peralatan sekolah bergambar Hello Kitty. Nia mengacak-acak sebentar isi wadah itu, kemudian mengambil sebilah pemes yang biasa dia gunakan untuk menajamkan pensil. Nia membuka pemes itu hingga terlihat ujung lancip yang agak berkarat.