Pertemuan Terakhir Seorang Penyair

Ketika aku kembali, dia berdiri menghadap bukit. Tubuhnya melaju beberapa langkah.

“Aku memutuskan berhenti menulis, juga segala hal tentang puisi.”

“Aku mulai menyadari, kita membutuhkan daya hidup di kehidupan ini. Dan puisi tak pernah mencukupi kebutuhan itu.” lanjutnya.

Mendengar ucapan itu, rasanya begitu aneh keluar dari mulutnya. Mulut seorang penyair yang dulu begitu menggebu membicarakan soal puisi.

Dari dulu ia tidak prnah berniat meninggalkan puisi. Jangankan meninggalkan, tidak membicarakan puisi barang sehari rasanya bukanlah sosoknya. Maka hari ini, jika ia punya pemikiran semacam itu, bukankah itu suatu keanehan?

“Bukankah menjadi penyair saat ini tidak lebih dari manusia tidak berguna. Siapa yang akan peduli pada puisi. Bukankah pula banyak puisi yang ditulis, namun hanya akan membuat penulisnya hilang entah ke mana. Banyak penyair dilupakan, lantaran tidak lagi bisa menulis sewajarnya, dengan kejujuran seutuhnya. Banyak puisi lahir, tapi tidak ada yang berani membacakannya di mimbar. Tidak untuk dimiliki siapapun, kecuali orang yang menulisnya sendiri,” saat itu, dia terus menakik sambil melemparkan kekecewaan itu padaku.

Mengamati raut wajahnya itu, membuatku kian tak mengerti. Dulu, sebelum ia kembali ke kampung halaman, sekian peristiwa yang kami lewati bersama menjadikanku tahu, dia adalah pemegang prinsip nomor satu. Aku ragu bahwa dia berubah pikiran. Merubah prinsipnya tanpa sebab yang jelas.

“Kamu membohongi hatimu? Apa yang sudah terjadi?”

“Itu tidak penting untukmu.” Tiba-tiba ia menatapku tajam.

“Jangan mengelak. Aku tahu ada sesuatu.”

Aku menatap wajah Wiji. Wajah itu layaknya awan tebal yang mendung. Kelam, dan terasa sunyi.

“Aku hanya memikirkan Mamak.”

“Kau tau sejak lulus SD, Mamaklah satu-satunya sumber kehidupanku. Tapi, apa yang kemudian bisa kulakukan untuknya? Terlebih saat ini, dalam situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu, justru berdiri supermarket yang tumbuh angkuh di dekat pasar. Hasil jualan Mamak pun tidak seramai dulu.”

Mata itu mulai membasah, mencipta danau kecil di kelopak. Seperti embuh yang menempel pada daun jati.

Arsip Cerpen di Indonesia