“Dan beberapa minggu lalu, ruko Mamak di pasar kebakaran hebat. Semua hangus. Beras berkarung-karung itu, dan barang dagang lainnya tak bersisa.”
“Sejatinya pemadam kebakaran sudah berusaha memadamkan pasar tradisional itu. Tapi entah kenapa, mereka berhenti di separuh perjalanan pemadaman, sembari berdalih sudah turun hujan, kata mereka, api akan segera padam. Tapi toh nihil. Lebih dari tiga perempat bangunan pasar tinggal puing. Mamak pun menangis histeris tengah malam itu, setelah mendapat telepon dari kerabat yang kebetulan melintas.”
“Kerugian itu cukup membuat harapan-harapan kami lenyap. Untuk sementara waktu, Mamak menyambung hidup ikut berjualan ayam potong di Pasar Pagi. Meski tak seberapa, tapi cukup untuk hidup sederhana kami berdua.”
“Aku merasa ada yang tidak wajar dari kebakaran itu.”
“Apa yang membuatmu resah?”
“Jangan-jangan bukan konsleting listrik, tapi dibakar.”
“Pernah aku bilang ke Mamak, tapi Mamak menolak pendapatku dengan berkata bahwa hatinya sudah ikhlas. Aku tidak diizinkan berbuat apapun terhadap kecurigaanku itu.”
“Pernah juga aku ingin membentuk forum para pedagang pasar tradisional, tapi lagi-lagi Mamak melarangku. Takut-takut jika aku ditangkap, dibuang atau bahkan ditembak mati seperti Kang Udin yang sampe kini tak tau rimbanya hanya karena menulis berita yang menyudutkan pemerintah.”
“Maka semua serba sulit untukku. Hari-hari sekarang, kami hidup sekenanya, seadanya. Hatiku mengkerut melihat Mamak, sedangkan aku serasa jadi manusia yang tidak berguna, yang kubisa hanya urusan kata.”
“Dan puisi, ah puisi bisa apa dalam keadaan semacam ini.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang.”
Ia beranjak menuju halaman belakang. Lantas duduk di beranda.
Aku mengikutinya, duduk di sampingnya.
Saat itu langit sudah mendung. Sebentar lagi hujan. Aku masih setia menunggu di sampingnya. Berharap ada beberapa patah kata yang ia sampaikan. Aku tau, Wiji memang selalu ingin melakukan sesuatu dengan caranya. Tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa memahami. Aku rasa ini bukan lagi tentang kopi pahit dan tidak pahit itu, bukan pula soal filosofi menulis puisi. Ini soal perasaan yang teka-teki, soal dalamnya hati.
Wiji diam. Kami tidak juga bicara. Ia menatap jauh, meskipun aku tahu ia tidak melihat apa-apa. Di antara gerimis, aku kira ia tengah bergelut dengan hatinya. Aku cukup memahami bahwa memang tidak semua persoalan dapat dengan mudah diselesaikan dengan kata. Hanya butuh pengertian, dan tentu saja waktu.