Pohon Keluarga

“Bukan berarti karena kau anak pejabat, lalu dengan seenaknya menginjak-injak harga diri orang lain seperti aku. Apa perlu kubuka kedok keluargamu?” gertakku.

Si Junet mulai pucat. Ia takut kalaulah jati dirinya diketahui orang banyak. Padahal dalam hati, aku sebenarnya juga tak tahu apa yang akan kuberitahukan perihal keluarga Junet. Jangankan tentang keluarga, tentang tempat tinggalnya saja aku juga tak tahu meski kami pernah sekelas waktu TK. Yang aku tahu, Junet adalah seorang anak konglomerat yang memiliki jabatan prestisius di sebuah instansi negara. Hanya saja tersirat dari kedua matanya yang menyala, ada sebuah rahasia. Hal itu jika kubongkar mungkin akan menjadi momok bagi Junet.

Karena tak ingin masalah makin membesar, Junet memilih untuk pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Kulihat ia ketakutan seakanakan aku akan melempar sebuah bom besar.

“Oh semono toh nyalimu [1],” kataku dalam hati.

Belum lama Junet pergi, datanglah ibu membawakan buku tugas itu. Tugas itu diberi ibu guru seminggu yang lalu. Aku dibantu ibu menyelesaikannya. Kuhiasi dan kuwarnai bersamasama. Itu tak masalah, sebab ibu guru bilang kalau tugas membuat pohon keluarga ini boleh dikerjakan bersama orang tua. Beruntung ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Jadi, tak terlalu repot baginya untuk membantuku menyelesaikannya. Beda dengan ibu-ibu lainnya yang memiliki pekerjaan selain di rumah. Mereka mungkin akan repot mengerjakan tugas rumah, mengurusi kebutuhan setiap anggota keluarga, hingga dikejar deadline tugas-tugas yang menyita waktu selain di rumah. Yang menghebohkan lagi kalaulah ibu-ibu itu ikut-ikutan politik dan melakukan kampanye. Tak jarang juga kujumpai menjadi tim sukses dari kandidat pemimpin bangsa masing-masing. Bayangkan akan seperti apa dunia. Para ibu-ibu rela turun ke jalan dan membagibagikan info tentang kandidat pemimpin yang diusungnya. Lalu bagaimana dengan anak-anak dan suami mereka? Mudah-mudahan ini tak menjadi masalah. Ah, tapi kenapa aku jadi ikut memikirkannya. Aku masih kecil. Tahu apa? Masih bau kencur, kata ibu. Biar saja. Kuwi duduk urusanku [2]. Tentang itu, kupikir ibu guru punya sejuta cara bagaimana membuat para orang tua agar ikut mendampingi anak-anaknya belajar di rumah.

Dengan begitu kukatakan bahwa membuat pohon keluarga merupakan tugas terasyik dari seluruh tugas yang pernah ada selama aku bersekolah. Ibu guru kali ini cermat dalam memberi tugas tambahan. Apalagi kalau berhubungan dengan keluarga, hal itu pikirku tak terlalu sulit. Aku hanya perlu menuliskan siapa ibu, bapak, dan tentu saja siapa aku. Jelas. Akan tetapi, itu tak berlaku bagi temanku.

Arsip Cerpen di Indonesia