Selesainya ibu mengantar, tibalah pelajaran Bahasa Inggris kemudian. Seperti yang sudah disampaikan ibu guru. Setelah kami membuat pohon keluarga, kami diminta untuk menceritakannya. Baik… baik, aku pasti bisa. Namun, tiba-tiba muncul di kepalaku suatu hal yang mengganjal. Di mana Junet? Meski aku senang Junet tak ada di sini saat ibu datang, sorot mataku menyala mencari-carinya. Kukatakan pada diriku bahwa aku merasa aman saat dia tak ada. Setidaknya, tidak akan kudengarkan lagi kata-kata satir seperti, kamu anak pungut, anak angkat, atau apalah yang sering kudengar darinya seolah menyiratkan bahwa aku bukan anak kandung ibu dan bapak. Hanya saja kali ini lain. Sudah lama Junet pergi dan menghilang dari peredaran. Ibu guru juga nampaknya membiarkan. Lagi pula itu sudah menjadi kebiasaan Junet sejak awal masuk di sekolah ini.
Memang benar wajahku tak mirip keduanya. Akan tetapi apakah untuk dianggap sebagai seorang anak dari sebuah keluarga, lalu mendapatkan kasih sayangnya, kita harus memiliki wajah yang serupa? Tidakkah Tuhan memang menciptakan manusia dengan berbeda-beda meski berasal dari jenis tanah yang sama. Akan hal ini, ingatan aku terbuka dengan kalimat yang berbunyi, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benarbenar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”
Sudahlah semakin kupikirkan, semakin runyam. Bertambah runyam pula dengan tak kembalikembalinya Junet. Aku tahu dia memang suka jahil kepadaku. Bahkan, dia secara terang-terangan menyindirku. Tapi kali ini, kali ini harus kuakui dalam lubuk hati, aku penasaran dengan kata-kata ini. Kata-kata yang akan selalu menggema dalam nurani. Mengapa harus berakhir seperti itu? Apa perlu, Jun?
Mengusikku, mengganggu dengan kata-kata Junet yang akhirnya telah kembali. Dia kembali dengan membawa pernyataannya yang kontroversial. Bak perang, dia seperti menyebarkan genosida untuk mematikan lawan. Tapi siapa? Siapa yang menjadi lawannya. Ini hanya sebuah pohon keluarga sederhana. Junet membacakan cerita tentang pohon keluarga di mana semua orang jadi mengetahui masa lalunya. Di masa mendatang, ini bisa jadi akan memengaruhi jalannya pemilihan pemimpin bangsa. Betapa pun sehebat-hebatnya kemampuan seseorang, tetapi tak dapat menghindar dari silsilah keluarga. Pohon keluarga buatan Junet ini akan menjadi saksi sejarah di mana akan muncul ratu adil seperti dalam ramalan Jayabaya.
[1] Oh, segitu nyalimu.
[2] Itu bukan urusanku.
R. Amalia, lahir di Surabaya. Alumnus Sastra Indonesia-Unesa. Pengajar di SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak dan daring.